Refkesi Hari Kartini, Memutus Budaya Patriarki - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

April 21, 2021

Refkesi Hari Kartini, Memutus Budaya Patriarki

0 Viewers
                
Oleh  : Mohammad Hasyim

Tanggal 21 April  setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini. Di tanggal tersebut tahun ini , 142 tahun lalu lahir bayi perempuan yang kelak dikenal dengan Raden Ajeng Kartini (RA Kartini). Lahir dari pasangan suami istri bangsawan Jawa, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan istri pertamanya, Ngasirah di Kota Jepara  tahun 1879. Ia (RA. Krtini)  menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojodhiningrat, Bupati Rembang era pemerintahan Hindia Belanda (sekarang Indonesia). RA Kartini wafat tanggal 17 september 1904 di Rembang  beberapa saat setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojodiningrat.


Sebagai pribumi, Kartini dikenal sebagai wanita pertama yang berani menyuarakan hak-hak perempuan.  Dalam catatan sejarah Indonesia ia dikenal sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita. Berkat perjuangan dan kegigihanya  dalam membela hak-hak dasar perempuan ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Berkat perjuangan Kartini juga, meski dalam keterbatasan karena kuatnya dominasi budaya patriarki kala itu, kini perempuan Indonesia bisa dengan mudah menggapai mimpi besar, memperoleh akses pengembangan dan aktualisasi dirinya di semua bidang kehidupan.


Hidup dalam budaya patriarki dengan donimasi otoritas laki-laki di banyak  bidang memang membuat perempuan terasa terasing. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memutus  mata rantai budaya itu. Selama ini memang sudah banyak kajian dan/atau kebijakan afirmasi yang mencoba untuk memutus mata rantai  patriarki itu, seperti dalam bidang agama, hukum, politik juga pendidikan.


Dalam soal agama misalnya, sudah banyak upaya  tafsir yang berupaya melepaskan belenggu misoginisme dalam agama, sehingga harus terus menerus dimunculkan tafsir-tafsir agama yang mendukung peningkatan martabat perempuan. Sementara dalam bidang hukum perlu upaya yang serius untuk memberi perlindungan yang kuat atas hak-hak perempuan, angin segar itu muncul ketika diterbitkannya undang-undang penghapusan KDRT No 23 tahun 2004. Tetapi upaya hukum dalam undang-undang penghapusan KDRT itu dirasa belum cukup untuk menghapuskan segala bentuk  perendahan martabat perempuan. Untuk itu upaya mendorong diterbitkanya RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) harus terus didukung guna memperkuat posisi perlindungan hukum pada perempuan.


Dalam bidan politik, reperesentasi  perempuan di parlemen mengalami kenaikan, bahkan mencapai angka yang tertinggi dalam politik kita, yaitu sebesar 20,5 %. Ini artinya dari 575 anggota DPR RI, 118 nya adalah perempuan. Keterwakilan politik perempuan dalam DPR yang semakin tinggi memungkinkan   hak-hak perempuan lebih tersuarakan lagi. Pencapaian ini tak lepas  dari aturan  minimal 30 % caleg perempuan dalam setiap daerah pemilihan (dapil) dan minimal satu calon di setiap tiga calon, regulasi itu tercantum dalam UU No 7 tahun 2017 tentang Pemilu (Umagapi : 2020).


Dalam bidang pendidikan misalnya, beberapa sumber mencatat bahwa beberapa tahun terahir ada trend kenaikan yang sangat signifikan dari kalangan perempuan mengakses sekolah dihampir semua satuan dan jenjang. Angka partisipasi kasar (APK) mereka terus naik dari tahun ke tahun. Pun juga soal  pilihan sekolah/kuliah yang lebih merdeka dibanding-tahun-tahun sebelumnya. Meski jumlahnya masih kalah banyak dengan laki-laki, kini telah banyak juga perempuan yang berhasil menduki jabatan-jabatan publik bidang pendidikan, kepala sekolah misalnya. Yang perlu didorong adalah upaya terus menerus mengurangi bahkan meniadakan sama sekali praktek depolitisasi perempuan dalam jabatan publik termasuk bidang pendidikan.


Selain soal-soal tadi, yang lebih penting bagi perempuan dewasa ini adalah sikap “harus berani” dalam arti obyektif. Sesuai kualifikasi dan kompetensinya dan tidak bertentangan dengan kodratnya, perempuan harus mampu masuk ke pelbagai bidang (agama, hukum, politik,ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya). Saatnya sekarang perempuan harus lebih “berani” sebagaimana beraninya Kartini menyuarakan hak-hak perempuan seratus lebih tahun lalu.


Memperingati hari Kartini kali ini ada baiknya kita/perempuan merenungkan kembali surat-surat Kartini yang dikirim ke sahabat karibnya, termasuk yang dikirim ke pasangan suami-istri Jaques Henrij Abendanom dan Rosa Abendanom yang menerbitkan surat-surat itu menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam salah satu suratnya Kartini pernah menulis demikian, “Dan apabila perjuangan laki-laki itu sudah sengit, maka akan bangkitlah pihak perempuan, berbahagialah kami, beruntunglah hidup pada masa ini, masa perubahan, beralih menjadi masa baru” , (12 Januari 1900).


Seperti yang diungkapkan oleh Kartini tadi,  perempuan harus bangkit, persis ketika laki-laki sudah kewalahan dalam berbagai bidang perjuangan/pengabdian. Kita  telah hidup di era baru, bukan lagi era yang menjadikan perempuan sebagai ”konco wingking”. Agaknya apa yang dikatakan oleh Kartini tidak memandang perjuangan  perempuan sebagai oposisi terhadap laki-laki, melainkan kedua mahluk Tuhan itu harus selalu berjuang bersama, bersinergi, bergandeng tangan untuk membangun hari esok yang lebih baik.

__________________

Mohammad Hasyim ,  Anggota Dewan Pendidikan Kab. Banyuwangi, Mengajar di IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi



Editor : Hakim Said

Tidak ada komentar:

Post Top Ad