Umat Islam "Susiresik" Tetap Sholat Berjamaah meski Ada Larangan MUI  - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 24 April 2020

Umat Islam "Susiresik" Tetap Sholat Berjamaah meski Ada Larangan MUI 

0 Viewers
Jamaah yang hendak masuk.masjid untuk sholat berjamaah kini harus melewati lorong penyemprotan disinfektan. FOTO: Amri/Berita Rakyat

Berita Rakyat
, Surabaya-
Hari pertama bulan suci ramadhan tetap dianggap sebagai awal bulan penuh berkah dan rahmad bagi umat Islam di beberapa kawasan di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik (Susiresik).

Pantauan berita-rakyat.co.id sehari menjelang bulan suci ramadan, masjid-masjid di beberapa kawasan di kota SuSiResik ini sudah dipenuhi para jamaah. Mereka melaksanakan sholat fardlu berjamaah seperti biasa.

Merapatkan barisan dan meluruskan sof- sof seperti biasa. Mereka tidak mengindahkan aturan untuk melakukan physical distancing maupun sosial distancing.

Para jamaah hanya berbekal masker dan membawa sajadah dari rumah. Sesampai di pintu masjid, mereka wajib mencuci tangan dengan sabun dan masuk lorong penyemprot disinfektan. Bahkan, sepeda motor jamaah pun ikut disemprot disinfektan.

Masjid di sekitar Rungkut Surabaya malah sholat tarawihnya dijaga banser. Beberapa masjid di kampung-kampung juga penuh oleh jamaah.

Begitu pula di Masjid Kauman Sidoarjo. Tak ubahnya seperti malam pertama bulan suci ramadhan tahun sebelumnya. Normal. Ramai oramg yang tarawih dan tetap bertadarus seusai sholat tarawih.

Seorang jamaah di masjid besar di Pongahan Gresik, yang ditemui sehari menjelang satu ramadhan,  menyebut bukan hanya bulan suci ramadhan, hari-hari biasa di masjid ini tidak pernah putus sholat berjamaah. "Sholat lima waktu tetap seperti biasa. Juga ada marhabanan," ujar Paijo.

Tak pelak suasana sholat Isyak yang dilanjutkan dengan sholat tarawih pertama berlangsung seperti tidak ada pandemi virus corona (Covid)-19 yang membahayakan itu.

"Ini sudah menjadi kebiasaan kami yang tidak perlu dilarang-larang. Masak orang mau bertobat dan mencari berkat dan rahmad dilarang," seru Nyonya Dyah ketus.

Larangan beribadah secara berjamaah di masjid maupun musolah itu, agaknya belum tersosialiasi secara jelas. Para pengurus tempat ibadah ini belum menerima surat edaran larangan dari Majelis Ulama Islam (MUI) setempat.

Sehingga mereka acuh saja kendati beredar info larangan melalui media massa, baik secara tertulis, online maupun broadcasting.

Wakil Ketua Umum Pimpinan Harian MUI, KH Muhyiddin Junaidi memang sempat mengeluarkan statemen yang dilansir beberapa media. Ia menyebut MUI telah pemberlakuan larangan tersebut daerah yang dikategorikan zona merah.

KH. Muhyiddin menyebutkan, merujuk pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No 14 tahun 2020, Dewan Pertimbangan MUI menyebut pelaksanaan ibadah tarawih, fatwa MUI tersebut secara gamblang dan komprehensif telah menjelaskan soal anjuran dan pedoman dalam melaksanakan sholat tarawih di masjid dan musholla.

"Di wilayah-wilayah yang masih terkendali, artinya tidak dianggap zona merah atau kuning, maka semua ibadah ritual seperti sholat fardhu, sholat Jumat, Tarawih, Idul Fitri bisa diselenggarakan secara normal. Ini untuk wilayah yang dianggap tidak ada ancaman," ujar Kiai Muhyiddin dalam konferensi pers bersama Dewan Pertimbangan MUI melalui media Zoom, Rabu (22/4/2020).

Sementara bagi wilayah yang dinilai penyebaran Covid-19 sudah meluas dan tidak terkendali, serta dikategorikan sebagai zona merah, maka ibadah-ibadah di atas dilakukan di rumah masing-masing.

Selain itu, bagi umat muslim yang tercatat sebagai orang dalam pengawasan (ODP), pasien dalam Pengawasan, atau bahkan diketahui positif Covid-19, haram bagi mereka untuk melaksanakan shalat berjamaah baik di masjid atau musholla. Ini karena dikhawatirkan dapat menularkan virus kepada yang lain.

KH. Muhyiddin menegaskan, penentuan diselenggarakan atau tidak ibadah berjamaah di suatu daerah dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah setempat. Pemerintah setempat berarti termasuk Ketua RT, RW, dan Lurah.  

"Masing-masing memiliki tugas dan hak. Jadi tidak ada lagi saling salah menyalahkan," ucapnya.

Dalam Fatwa tersebut, dituliskan pula jika setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan  menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit. Hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

Senada dengan itu, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Prof Didin Hafidhuddin menegaskan, dalam Fatwa MUI No 14 tahun 2020 sudah tegas dituliskan ada daerah yang boleh melaksanakan ibadah sholat berjamaah dan ada yang tidak.

Daerah yang tidak boleh sama sekali melakukan shalat jamaah, adalah yang utamanya berada di zona merah dan kunjung. Sementara daerah zona hijau diperbolehkan dengan beberapa catatan.

"Catatan dan kehati-hatian diperlukan agar jangan sampai yang asalnya zona hijau, karena terlalu banyak jamaah di suatu masjid malah menimbulkan masalah," ucapnya.

Terhadap Pimpinan MUI di daerah, Prof Didin Hafidhuddin menegaskan, kalaupun masuk zona hijau dan ingin melaksanakan sholat berjamaah, harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Jangan sampai yang awalnya aman, menjadi terdampak dan berubah statusnya menjadi zona kuning atau bahkan merah.


Penulis : Amri
Editor   : Amu

Tidak ada komentar:

Post Top Ad