Ratu Tisha: “HATI SAYA, KALAU DIBELAH, ISINYA HANYA SEPAK BOLA”  - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 15 April 2020

Ratu Tisha: “HATI SAYA, KALAU DIBELAH, ISINYA HANYA SEPAK BOLA” 

0 Viewers
Penulis Yon Moeis (paling kiri) bersama Ratu Tisha dan rekan seprofesi Erwiantoro Cocomeo. FOTO: Yon Moeis/istimewa
SEKRETARIS Jenderal wanita pertama itu telah mundur. Jika Iwan Bule sebagai nakhoda PSSI salah memilih sekjen pengganti Tisha, bukan tidak mungkin dia juga bakal tenggelam.

TIDAK ada air mata yang tumpah, juga penyesalan yang nantinya hanya meninggalkan luka. Ini biasa-biasa saja.

Tapi, cara Tisha pamit meninggalkan PSSI, keren dan cerdas. Melalui @ratu.tisha – akun Instagram miliknya yang berfollower 118K – Senin, 13 April 2020, ia, dari hatinya yang terdalam, mengabarkan tak lagi menjabat Sekretaris Jenderal PSSI yang, ia emban sejak 17 Juli 2017.

Ratu Tisha Destria – dia lahir di Jakarta, 30 Desember 1985 – hanya ingin menggatakan bahwa sesungguhnya ia bukan wanita lemah; wanita yang tak selamanya bicara dengan hati. Tapi, mendengar voice over lewat unggahan video berdurasi 1 menit 45 detik, itu, agaknya, Tisha ingin merobek-robek perasaan banyak orang dengan menyembunyikan apa sesungguhnya yang terjadi, sehingga ia harus pergi.

Saya tidak mengenal jauh, apalagi dalam – sedalam hatinya – Tisha. Kami hanya satu kali bertemu dan, saya sempat menggoda dengan mengagumi kecantikannya, dan memuji dia sebagai wanita wangi.

Saya masih ingat, malam itu, Tisha hanya tersenyum, senyum yang menggambarkan suasana hatinya; hati yang berbunga-bunga, tentu saja.

Lulusan FIFA Master yang menjabat Wakil Presiden Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) 2019 – 2023, juga menjadi perempuan pertama di posisi tersebut.

Ratu Tisha juga menjadi salah satu anggota Komite Kompetisi di Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Banyak yang mengatakan Ratu Tisha adalah perempuan hebat.

Tapi, buat saya, dia biasa-biasa saja, meski tidak harus membandingkannya dengan Fatma Samba Diouf Samoura, Sekretaris Jenderal FIFA. Samoura – ia berdarah Senegal, Afrika Barat – adalah perempuan pertama yang menjabat sekjen di organisasi sepak bola dunia itu. Samoura yang berbahasa Perancis, Inggris, Spanyol, dan Italia, sebelumnya mengabdi di PBB selama 21 tahun.

Tisha, menurut saya, belum teruji sebagai pemegang jabatan kunci di organisasi olahraga terbesar di Tanah Air ini. Cantik belum cukup. Dia masih membutuhkan waktu panjang tuk bisa dikatakan hebat.

Mengingat sejarah Sekjen PSSI; tidak ada istilah mundur, tapi dipaksa mundur. Posisi ini selalu bermasalah dan dimasalahkan.

Sebelum Tisha, Ade Wellinton adalah sekjen paling cepat yang dilengserkan, meski tetap dibungkus dengan pengakuan mundur.

Ingat ketika saya ikut mempersiapkan menurunkan Tri Goestoro karena dia “bermain api” di dalam gerbong perubahan. Atas restu Arifin Panigoro, saya merancang penurunan Tri dari kursi sekjen dan mempersiapkan Halim Mahfud, pendiri Halma Strategic, perusahaan konsultan yang fokus pada crisis management.

Gus Iim – demikian saya memanggil Halim Mahfud – adalah lulusan Cornell University, Ithaca, New York, pada akhirnya meninggalkan jabatan sekjen lantaran dipaksa oleh pemilik gerbong baru.

Sekretaris Jenderal PSSI sesungguhnya, buat saya, adalah Nugraha Besoes. Ia adalah manusia langka. Dia bukan dijatuhkan dari langit.

Kecerdasan Nugraha luar biasa, yang dia perlihatkan setiap kali dimana pun berada. Nugraha bisa menjadi public relations yang baik bagi PSSI.

Suaranya enak terdengar, intonasinya naik-turun sesuai dengan arah ke mana dia hendak menekankan isi pernyataannya. Saya tidak mengagumi Nugraha dengan berkelebihan. Kami hanya berteman dan, bertahun-tahun, memelihara pertemanan itu dengan baik.

Hanya kebaikan-kebaikan Nugraha yang saya ingat. Kenangan berada satu meja di Long Beach – waktu itu Nugraha asyik menguliti bebek panggang, yang menjadi menu utama restoran yang terletak di lantai bawah pusat perbelanjaan mewah di kawasan Senayan – sulit dilupakan. Juga ketika dia menyantap bekicot rebus di restoran La Brasserie, Hotel Le Meridien.

Dulu, pada 1995, ketika Azwar Anas menjabat Ketua Umum PSSI untuk yang kedua kali, saya pernah mendorong Nugraha agar dia terpilih kembali mendampingi Azwar Anas.

Waktu itu, Nugraha saya ibaratkan sebagai petinju bertipe slugger, petinju yang senang bermain jarak dekat sebelum melayangkan pukulan-pukulan berkekuatan tinggi. Nugraha pasti ingat dengan pujian itu.

Nugraha pada akhirnya pergi dan saya tidak berada di sampingnya ketika dia “terpaksa” meninggalkan kursi sekjen, seperti saya hanya mendengar suara Tisha ketika dia pergi.

Siapa pun pengganti Tisha, buat saya tidak penting. Tapi, dia bisa bermasalah dan dipermasalahkan jika Iwan Bule sebagai nakhoda di PSSI, salah memilih orang dan, bukan tidak mungkin dia sendiri bisa tenggelam.

Yang ingin saya ingat adalah suara Tisha dan memahami kandungan kalimat, di ujung rekaman suara pamitannya itu; “hati saya, kalau dibelah, isinya hanya sepak bola”. Tisha, kenapa kamu pergi meninggalkan jabatan ini, saya yakin, jawabannya ada di sebelah hatimu itu ...

Penulis : Yon Moes adalah wartawan senior dan pemerhati sepak bola
Editor   :  Amu

Tidak ada komentar:

Post Top Ad