POJOK'e C'AMU: Takut Kafir - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 17 April 2020

POJOK'e C'AMU: Takut Kafir

0 Viewers
Jamaah salat Jumat di salah masjid di daerah Waru Sidoarjo. Mereka tetap merapatkan barisan. Tidak ada perintah physical distancing. FOTO: Istimewa/Berita Rakyat.

Jumah mubarokah! Inilah hari yang paling dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Tak terkecuali.

Tak terkecuali di Indonesia. Tak terkecuali di Jawa Timur. Tak terkecuali di Sidoarjo. Tak terkecuali di Waru.

Ya. Terkecuali di kampung saya. Desa Wadung Asri, Waru Sidoarjo. Dino jemuah yang membawa berkah itu, sangat dinantikan umat Islam. Terutama bisa melaksanakan sholat jumat. Alias jumatan.

Sejak wabah corona virus (Covid)-19 menyerang Bumi Nusantara, sejak itu barokah sholat jumat mulai lenyap. Tak sedikit masjid yang meniadakan sholat fardlu bagi muslimin, apalagi yang mukmin.

Pendapat ulama nasional yang mendukung program pemerintah untuk memutus tali virus dari kerumunan jamaah, juga banyak yang mengamini. Mereka menutup masjidnya. Tidak ada jumatan lagi.

Masjid di tempat saya tinggal, malah tidak mengumandangkan adzan khusus pas jam salat jumat. Itupun hanya sanggup mereka lakukan dua kali waktu jumatan. Dua pekan. Yaitu, dua jumat sebelum ini.

Jumat ketiga, hari ini (17/04/2020), Masjid Al Hidayah ini, tak mengindahkan pengumuman yang terpampang di mulut gang. Yang dibuat Ketua Takmir dan Ketua RW.

Jumat ketiga, takmir masjid tersebut mengumumkan akan ada salat jumat lagi. Pas, seminggu sebelum jumatan.

Alasannya? Bukan lantaran mereka ingin menjolok berkah jumatan atau jumah mubarokah. Tidak!

"Kami takut dianggap kafir," ujar seorang takmir.

Lho?

"Iya. Di dalam syariah Islam, barang siapa yang meninggalkan salat jumat tiga kali berturut-turut, maka dia termasuk golongan orang kafir," ujar takmir lainnya.

Argumentasi ini, ternyata juga menjadi alasan jamaah masjid di tempat teman saya. Di daerah Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Ustad Sofyan Ali begitu saya memanggil teman SMA ini, adalah ketua takmir. Dia mengaku tidak bisa berbuat banyak ketika didaulat umat Islam.

Katanya, jamaah di masjidnya minta kebijakan takmir agar menggelar jumatan hari ini (17/04/2020). "Jamaah minta mulai jumat ini harus ada jumatan lagi," cerita ustad.

Dilematis! Pria berjenggot tipis ini di satu sisi ingin mensukseskan program pemerintah. Sisi masyarakat enggan mematuhi larangan sholat jumat sampai batas waktu yang belum jelas.

Solusinya? "Ya, saya harus pilih di tengah. Bisa menggelar jumatan, tapi harus patuh dengan aturan yang berlaku," jelas bapak tiga anak ini.

Aturannya? Jamaah salat jumat harus warga sekitar. Tidak boleh ada jamaah dari luar.

Semua jamaah wajib sehat dan bersih diri. Mandi besar di rumah. Yang sakit tidak boleh ikut jumatan.

"Jamaah harus pakai masker. Kita test dengan alat suhu tubuh yang baru kita beli dua juta rupiah," jelasnya.

Sebelum masuk, semua jamaah wajib melewati kotak tempat penyemprotan disinfektan.

Setelah itu, cuci tangan pakai sabun. Kemudian tetap jaga jarak. Tidak harus merapatkan barisan.


Selain salat jumat, menurut dia, jamaah di masjidnya juga menutut tetap diperbolehkan salat lima waktu secara berjamaah. Sehingga mulai Jumat, hari ini, dia harus membuka pintu masjidnya.

" Saya tak berkutik. Habis gimana lagi. Ini hampir permintaan semua jamaah. Terutama yang tua- tua. Pola pikirnya tradisional banget," ujar pengusaha ini.

Ustad menyadari bahwa jamaah di masjidnya tidak banyak yang mengonsumsi internet. Apalagi membaca info atau perkembangan dari media sosial.

"Mereka sudah punya kebiasaan salat berjamaah. Apalagi salat jumat. Tidak bisa dilarang. Mereka takut kafir," tegasnya.

Kisah jamaah di daerah Ustad Es ini, ternyata sama dengan jamaah di Masjid Darul Ulum Berbek Kecamatan Waru, Sidoarjo.

Salah seorang takmir masjid tersebut, menyebut kiyainya melarang menutup masjid. Prinsipnya, sebaik-baik ibadah salat adalah berjamaah di masjid. Apalagi jumatan.

"Di sini tetap mengadakan salat jumat. Tidak pernah absen. Kiayainya melarang menutup masjid. Baik untuk salat jamaah lima waktu maupun jumatan," tegaspria yang sehari harinya jaga parkir kendaraan jamaah ini.

Hal yang sama juga dilakukan di masjid rekan gowes dari Strattos Cycling Club (SCC) yang tinggal di daerah Gilang, Kletek, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Marianto mengakui masjid di daerahnya tetap menjalankan rutinitas seperti biasanya.

"Salat berjamaah dan jumatan tetap tak ada perubahan. Tapi kita harus waspada dan jaga kerbersihan," ujarnya.

Dan, yang pasti di daerahnya aman aman saja. Tidak ada yang kena virus Covid-19. Kehidupan lainnya juga tetap normal seperti biasa. Dia juga masih bekerja di perusahaan produk kopi.

Saya sendiri kian penasaran. Berita yang pernah ditayang di media ini, bahwa Sidoarjo masuk kategori Zona Merah, dan mengalami peningkatan jumlah pasien positif Ciovid-19, tetap tak mengubah gaya hidup masyarakatnya.

Hari-hari belakang ini, kehidupan masyarakat tidak ada bedanya dengan hari sebelumnya. Bahkan, masjid yang menjadi salah satu tempat paling banyak dikerumuni jamaah, masih banyak yang menggelar salat lima waktu berjamaah.

Adzan dan iqomah berkumandang seperti biasa. Acara tahlilan dan dzibak'an setiap malam jumat juga sesekali terdengar dari pengeras suara.

Yang paling ramai adalah jumatan di minggu ketiga bulan ini. Sudah banyak umat yang keluar rumah berduyun duyun di masjid terdekat. Suasana sudah normal kembali.

Beberapa masjid yang saya pantau sejak sebelum adzan salat jumat, rta-rata dipenuhi jamaah.

Mulai dari sepanjang jalan Sepanjang, Kletek, Taman, Bungur Asih, Ngingas, Berbek, Wadung Asri Sidoarjo dan Rungkut Surabaya, semangat umat Islam untuk jumatan sangat antusias. Bahkan, hampir semua masjid itu diluberi jamaahnya.

Semangat untuk beribadah ritual di rumah agaknya bakal sirnah. Hanya orang orang tertentu, yang menyadari akan mudahnya penyebaran virus tersebut.

Dan, hanya sebagian orang yang memahami perlunya sosial atau physical distancing. Dan, hanya umat Islam yang paham syariah dan berpegang teguh tentang kemslahatan umat, yang masih bertahan.

Memang, situasi saat ini, untuk mengejar pahala sebanyak banyaknya melalui ibadah berjamaah, memunculkan multitafsir. Himbauan ulama sudah tidak berarti lagi.

Kini, semua terpulang pada diri sendiri.  Untuk menjaga diri!

Tidak mudah memang, memahami sebaik baik ibadah adalah di rumah. Hanya diri sendiri yang bisa menentukan sikap.

Sudah banyak panduan, pengetahun, serta informasi yang bisa kita cerna dengan akal sehat. Yang bisa diolah oleh hati nurani.

Semua pasti berharap dirinya sehat dan orang lain juga sehat. Sehat jasmani. Serta rohani.

Kini, bukan saatnya berebut pahala dari ibadah ritual. Sudah saatnya kita mengemplementasikan diri.

Kini, bukan pula saatnya berebut rejeki materi. Sudah saatnya kita memanivestasikan diri. Berbagi!

Berbagi rasa. Berbagi suka. Berbagi duka. Berbagi rejeki. Berbagi demi kemaslahatan semua umat.

Islam diciptakan untuk alam semesta raya. Bukan untuk satu golongan. Bukan pula hanya untuk manusia.

Dulu, kita berprinsip: Lakum dinukum waliaddin. Bagimu agamu, bagiku agamaku.

Dulu, kita juga berprinsip: Walana akmaluna, walakum akmalukum. Amalku adalah amalku. Amalmu adalah amalmu.

Kini, Allah mengajak pikiran kita, hati kita, agar menyatu bahwa Dia menciptakan agama yang telah disempurnakan, dengan memegang teguh: Rahmatan lil alamin.

Membawa rahmad untuk alam semesta raya.

Sudahkah kita mengejawantahkan agama yang kita anut mencapai visi dan misi Tuhan. Sebagai kholifah di muka bumi ini untuk menjaga ciptaannya.

Wabah atau pandemi Covid-19 adalah pelajaran yang sangat bernilai agar kita segera mengeNOLkan diri. Berdiam diri rumah berhari-hari adalah untuk tafakur.

Mengoreksi diri. Mawas diri!

Mengukur pencapaian ibadah selama ini - baik duniawi maupun akharati - apakah sudah diaplikasikan untuk semua makhluk ciptaanNya.

Wallahu'alam bishshowaf.

Penulis : Abdul Muis Masduki





Tidak ada komentar:

Post Top Ad