POJOK'e Ca'AMU: Luna "Mayak" - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 18 April 2020

POJOK'e Ca'AMU: Luna "Mayak"

0 Viewers
Aksi Luna Maya: FOTO:Istimewa.

LAMA sekali saya tak melihat Luna Maya. Artis rupawati. Yang parasnya memikat itu.

Walau hanya bisa meniliki dari layar kaca tivi, Luna Maya tetap mempesona. Pesonanya bagai magnit.

Sejak sebelum dia akrab dengan Ariel Peterpan. Apapun yang dilakukan Luna Maya tetap menarik bagi saya. Mungkin juga buat pembaca.

Saya sempat takzub ketika tiba-tiba dia nongol.  Nge-Vlog. Video berdurasi pendek ini saya lihat di GWA teman-teman SMA. 

Di-GWA atau Grup WhatsApp itu, aksi Luna Maya juga dishare di GWA lain. Kondang jadinya. Luna Maya bak seorang reporter yang mewawancarai nara sumber, seputar isue yang kini jadi tranding topic. Corona Virus (Covid)-19.

Saya simak sampai habis V-Log artis idola ini. Sayang wajah Luna Maya hanya nampak separo. Castingnya kurang sempurna. Eman sekali, parasnya yang aduhai, di CU extrime tanpa teknik.

Di akhir interviunya, dia close up habis. Lumayan, senyumnya bisa untuk tombo kangen hehe.

Luna Maya masih kelihatan oke di usianya yang sudah tidak muda lagi. Maklum sejak "cerai" sama Ariel, saya tetap suka ngeliat dia.

Soalnya Luna "mayak" banget sih. Bengal. Ndableg. Punya jiwa EGP. Emang Gue Pikirin!

Dunia media pernah dibikin heboh. Soal hubungan intimnya dengan penyanyi top markosip saay itu. Tapi lambat laun, isuenya reda. Luna Maya yang "Mayak" seakan termaafkan seiring perputaran waktu.

Kali ini, dia mencoba "mengguncang" jagad raya lagi. Lewat media internet. Cuma persoalannya tak semayak dulu.

Tapi di kalangan medis, dia tetap dianggap "mayak". Ayak-ayak wae.

Betapa tidak. Video yang diunggah artis gaek ini bukanlah di bidangnya. Sebagai artis atau intertainment. Bukan.

Luna Maya mewawancarai Indro Cahyono. Seorang pria tambun berkepala plontos. Tidak seberapa tampan. Masih cakepan Ariel hehe. 

Dia mengupload konten itu, 12 April 2020. Isinya seputar corona virus (Covid) -19. Durasinya cuma dua menit. Lebih 35 detik. 

Melalui "account fanbase @lunamaya" di Instagram itu, Indro mengatakan dari sekian banyak korban yang meninggal, belum pernah ada satu pun yang meninggal hanya karena Covid. 

Kemudian Luna menimpali, "Jadi belum ada, ya."

Indro mengatakan korban meninggal biasanya karena ada komplikasi penyakit seperti jantung dan stroke. 

 Lalu ia bilang, "Jangan menghubungkan Covid -19 ini dengan kematian." 

Katanya lagi,"Kalau ia sakit, iya (bisa meninggal). Orang yang terinfeksi akan mengalami batuk, flu, dan agak sesak napas selama sepekan." 

Kata Indro lagi, kemudian pekan berikutnya pasien bisa sembuh setelah antibodi untuk melawan virus diproduksi tubuh. 

Indro lantas menegaskan bahwa Covid ini membuat sakit. "Tapi tidak seganas atau membunuh seperti yang ada di media," katanya.

Luna Maya kembali menimpali. Tapi gayanya tidak fokus ke nara sumber. Dia sibuk mengatur kamera ke arah Indro y├áng duduk nyantai di seberang kamera selfienya. 

Indro menegaskan lagi bahwa korban meninggal bukan hanya karena Covid-19, tapi karena penyakit penyerta. 

Jadi, imbaunya, jangan panik. Jangan lantas bingung takut dan curiga kepada semua orang.  
Lantas? 

Luna Maya mengakhiri wawancaranya tanpa ada pesan. Clossing interviunya ala kadarnya. Polos. Amatiran. 

Secara jurnalistik garapan Luna kurang mengena. Pengambilan gambarnya juga terkesan asal nyoting. Luna nekad. 

Materi yang disampaikan dokter Indro juga kayak propaganda. Intinya, dia meredam suasana bangsa yang tengah panik, bingung dan gak jelas masa depannya.

Namun, sisi medik, statemen Indro bisa kontroversi. Penyampaiannya tidak selaras dengan dokter ahli paru atau ahli virologi yang pernah saya baca. 

Apa yang diupload Luna Maya bisa dianggap lebih "mayak" lagi oleh dokter yang ahli soal virus mematikan itu. Apalagi kesan dari video itu, telah merendahkan efek dari virus yang menghebohkan jagad ini. 

Saya sendiri sempat mengentengkan persoalan Covid-19, setelah melihat vlognya Luna Maya. Namun saya tetap penasaran. Apa dasar Luna Maya memakai Indro sebagai nara sumbernya.

Saya pun mencoba searching beberapa media portal lainnya. Pas buka salah satu media portal kesohor, ada ulasan tentang postingan video Luna Maya.

Di media itu, seorang Doktor Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter spesialis paru Achmad Hudoyo mengkonter konten video tersebut. 

Hudoyo menganggap pernyataan Indro "sembrono". Indro dianggap cenderung menggampangkan Covid-19. 

Padahal kenyataannya vorus itu dapat sangat mudah menyebar. "Virus (itu) makhluk yang tumbuh pada manusia dan dapat kembang biak dengan cepat dan sangat mudah menyebar," katanya.

Bukan hanya Hudoyo. Dokter spesialis paru lainnya, dr Erlina Burhan menyebut tidak benar Indro menilai korban Covid -19 itu meninggal hanya dikarenakan penyakit penyerta. 

Logikanya, kata dokter yang bertugas di RSUP Persahabatan Jakarta ini, orang yang sakit itu tidak lantas akan meninggal jika tidak terkena Covid-19. 

"Dia bilang orang meninggal karena stroke, hipertensi, sakit gula, dan lain-lain. Sekarang coba dibalik. Orang yang sakit stroke, jantung, hipertensi kalau enggak ada Corona, enggak mati, kan?" kata Erlina. 

Erlina lantas menantang Indro ke rumah sakit untuk melihat pasien secara langsung. Indro harus membuktikan omongannya di video tersebut. 

"Suruh dia ke rumah sakit lihat pasien-pasien di sini," tantang Erlina yang lansir Tirto.id.

Tantangan dokter Erlina memang cukup beralasan. Seorang dokter yang tidak melihat langsung di lapangan bisa memiliki persepsi yang berbeda. 

Yang paling parah, jika video Luna Maya menjadi referensi masyarakat yang dari awal sudah abai masalah Covid-19. Terutama bagi mereka yang merasa diri sehat dan tidak punya riwayat penyakit yang disebut Indro.

Sampai sejauh ini, tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menyepelekan masalah virus ini. Dan, mereka akan lebih mengabaikan setelah melihat video Luna. 

Luna Maya sendiri mungkin tidak menyadari dampak uploadnya bakal runyam. Mungkin niatnya baik. 

Namun di balik niatnya justru membawa bumerang. Entah Luna Maya sudah mengenal betul atau tidak dengan nara sumbernya itu? 

Indro Cahyono ternyata bukan seorang dokter spesialis tentang paru. Di insklopedia dia dikenal sebagai dokter hewan. 

Nah, lho! 

Awal April 2020 namanya tercantum dalam pesan berantai berjudul 'literasi Covid-19'.

Dalam pesan itu, Indro tertulis sebagai ahli Covid-19. Namun pesan berantai itu dibantah oleh Indro. 

Kominfo juga menyatakan pesan berantai soal virus Corona 'dari Indro Cahyono' itu hanya berita bohong. Terlepas dari kabar tersebut, Indro juga dianggap tidak kompeten membahas Covid-19. 

"Dia, kan, dokter hewan," kata dokter Erlina Burhan. 

Salah satu penelitian Indro adalah soal kondisi kesehatan dan produktivitas sapi perah pasca erupsi gunung Merapi di DIY dan Jawa Tengah.

Kini Indro tercatat sebagai pegawai di Balai Penelitian Veteriner Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. 

Dalam Laporan Tahunan BB Litvet 2017, ia disebut masuk dalam kelompok peneliti virologi yang tengah mengikuti program S2 di University Of Adelaide. 

Nah disinilah persoalan Luna Maya. Seorang pemberita. Penyambung lidah informasi harus meniliti kompetensi sumber beritanya. Kelayakan sebagai nara sumber. 

Relevan atau tidak!

"Semua itu tanyakan pada ahlinya. Jika tidak, maka rusaklah dunia ini" ujar seorang pakar ilmu komunikasi Ir Yogie Lubis kepada penulis.

Dosen senior di salah satu perguruan tinggi swasta d Surabaya ini menilai penyampai informasi tidak boleh asal tayang walau niatnya baik. 

Sebuah berita pasti memiliki ketajaman yang kuat, jika diperoleh dari sumber yang relevan dan kompeten. Jadi, katanya, jangan merasa bangga atau menjadikan syutingannya menjadi kebanggaan, kalau efeknya buruk bagi masyarakat.

Yogie menyebut kematian seseorang itu memang tidak lepas dari takdir Allah. Ini hakikinya. Namun asal kematian itu juga dilalui dari kehidupan seseorang. Yaitu penyebabnya secara syariah. 

Jika dokter ahli mengatakan mereka meninggal setelah terjangkit Covid-18, semua tidak bisa membantahnya. Corona virus tetap berbahaya bagi manusia. Apalagi jika kita belum menemukan penangkal pastinya. 

Sudah banyak yang menjadi korban. Tua atau mudah. Masyarakat biasa atau profesi lainnya. 

Korban terbanyak justru dari petugas medis yang menjadi garda depan. Ini sebagai bukti bahwa jangkitan virus ini harus diwaspadai.

Kita tidak boleh abai soal virus ini. Kita juga tidak boleh paranoid berlebihan. Kita perlu hati-hati dengan menjaga diri dan orang lain dengan sebaik-baiknya. 

Penulis : Abdul Muis Masduki

Tidak ada komentar:

Post Top Ad