mBonek di Event Gowes Internasional Bromo KOM Challenge 2020 - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Minggu, 26 April 2020

mBonek di Event Gowes Internasional Bromo KOM Challenge 2020

0 Viewers

GAUNG Bromo KOM Challenge 2020 warbiasa gemanya. Didengungkan hingga membuat calon peserta keranjingan untuk ambil bagian.

Tak terkecuali saya.

Tapi untuk mengikuti event balap sepeda ini butuh segalanya. Bukannya biaya pendaftarannya paling mahal di event yang sama di negeri ini. 

Juga butuh daya tahan tubuh yang tangguh. Bayangkan, di etape terakhir, peserta harus gowes nanjak 40 Km, dengan kecepatan paling banter 25 km/jam.

Bagi pembalap asal ikutan kayak saya, bisa mengayuh rata-rata 7-8 kmj sudah bagus. Apalagi tidak sampai kram dan sukses di puncak Desa Wonokitri bisa memakan waktu di bawah 5 jam. Istimewa.

Ya, event ini masih menyisakan kenangan tersendiri bagi saya. Betapa tidak. 

Selain ini event perdana yang pernah saya terjuni, juga acaranya dibentang di tengah wabah virus corona (Covid)-19, yang menghancurkan perekonomian dunia itu.

Eventnya yang dihelat hari Sabtu (14/03/2020) ini berlangsung mulus. Pesertanya berasal dari 22 negara dan hampir semua provinsi di Indonesia.

Sampai hari ini, tidak ada kabar satupun dari ribuan pesertanya yang diberitakan positif Covid-19. Aman-aman saja. Alhamdulillah!

Event balap sepeda tahunan ini, oleh peserta dianggap paling akbar di negeri ini. Sangat bergengsi. 

Malah ada yang mengibaratkan "hajinya" goweser. Event lainnya dianggap umroh. Masya Allah!


Terbukti dari tahun ke tahun, sejak 2014, pengikutnya selalu meningkat. Tahun ini, event yang dititle-li Herbana Bromo KOM Challenge 2020, pesertanya mencapai 1448 pegowes. Warbiasa. 

Tak heran jika peleton besarnya, membuat beberapa titik mengalami kemacetan lalu lintas. 

Jelang masuk finish, Desa Tosari dan Wonokitri, juga harus nuntun sepeda karena terhalang mobil penjembut loading.

Tak heran jika jumlah peserta sebanyak itu, bisa pecahkan rekor terbanyak ketimbang event tahunan lain di negeri rupiah ini.

Grand Fundo New York (GFNY) yang baru dihelat di Bali, bulan lalu, pesertanya tak sebanyak Bromo KOM. Juga event di Jogja dan Jawa Tengah.

Bromo KOM memang menantang. Alamnya menyenangkan. Medannya menanjak dan meliuk liuk yang mengasyikkan.

Siapa pun yang bisa menaklukkan pasti ketagihan. Karena itu, banyak peserta yang sudah berkali kali "naik hajinya gowes" di Bromo KOM.

Proses untuk mengikuti kompetisi bersepeda balap ini, hampir sama dengan event yang lain. Pendaftarannya dibuka tiga bulan sebelum hari H.

Diawali pembukaan pendaftaran dengan harga Early Bird. Bromo KOM mematok harga IDR 900K. 

Batas regristasinya sampai akhir Desember. Setelah itu, kena harga baru. Lebih mahal.

Semua calon peserta paham soal ini. Mereka tidak susah melakukan pendaftaran.

Bisa lewat media portal yang dimiliki manajemen PT DBL Indonesia.  Mainsepeda.com namanya.

Saya pernah ikut mendaftar, di gelaran Bromo KOM Challenge 2019. Pas harus melunasi pendaftaran Early Bird, dengan harga paling murah itu, pas gak punya duit hehe. 

Maklum pangsiunan! Tapi semangatnya kayak orang berduit hehehe..

Karena itu, dendam saya kian membara. Tahun berikutnya harus ikut. Harus bisa "naik haji."

Maksudnya tahun ini. 2020. Tapi, apes lagi. Dasar Bonek. Ga gablek duwek nekad melok..qkqkqk. Desember 2019, terlewatkan. Tapi, perasaan saya tetap yakin. Bisa ambil bagian.

Saya tidak putus asa. Patah arang. Bromo KOM harus jadi lembaran sejarah hidup.

Harus dinikmati lagi. Tapi Tidak loading (naik pick up) seperti kali pertama ketika saya ikut lounching jersey Juanda Cylist Community (JCC) 2019.

"Saya ingin gowes bareng peleton super besar. Rame rame menaklukkan Bromo dan finish tanpa loading," pikir saya.

Kalau pun tidak terdaftar, saya akan menyusup. Ternyata, mBonek (Bondo Nekad) di Bromo KOM ini, tidak mungkin. 

Ada larangan nyusup di antara peserta. Semua harus pakai jersey. Pakai kostum kebanggaan yang harganya mahal. Buatan SUB senilai IDR 400K.

Karena itu, saya kemudian menghubungi rekan sejawat. Rahmad Kartolo. Dia sahabat saya. Ketika sama sama bekerja di Radar Bandung Grup Jawa Pos. Dan, juga di Bandung Ekspres.

Waktu pendaftaran sudah mepet. Harus mengejar deadline. Takutnya kuota sudah sold off.

Rahmad di PT DBL Indonesia yang sudah naik pangkat. Jadi manajer senior, paham betul keinginan saya.

Lama dia gak bersua. Karena di usia 48 tahun, saya pensiun dini. Pas jabatan saya waktu itu, sebagai pemimpin redaksi Jawa Pos Edisi Saudi Arabia

Saya baru jumpa Rahmad lagi via handphone. Yaitu saat saya diminta Bos Besar Jawa Pos Grup Dahlan Iskan gabung lagi di Lombok Post 2017.

"Mas, aku pingin daftar Bromo KOM," bunyi japri saya di FB-nya alumnus UNAIR ini. 

"Monggo Pak, sak estu ta nderek. Isi regristrasi  mawon. Gampang (Silahkan Pak, benarkah akan ikut. Isi pendaftaran saja. Mudah, Red.)," sambung Rahmad.

Ia pun tersenyum saat ditelpon. Tapi nasanya agak kurang percaya. Masak wartawan yang usianya sudah 57 tahun mau ikut balapan, naik tanjakan Wonokitri Bromo lagi.

Kapan latihannya. Nekad? Dasar mbahe Bonek hehe..

Rahmad kemudian mengirim email dan Whatsupp (WA) tanda regristrasi disetujui. Malah tiket senilai IDR 1,2 juta tertera sudah dilunasinya.

Alhamdulillah! Rejeki pegowes sholeh hehe..

Sejak itu, saya tak ingin mengecewakan Rahmad. Pengalaman gowes bareng JCC tahun lalu tidak bisa jadi ukuran. 

Apalagi tidak sampai finish karena sepuluh kilo sebelum puncak Wonokitri, kaki berkali kali kram. Tak bisa diajak kompromi lagi. Dan  akhirnya loading.

Pikir saya kebaikan Rahmad harus dibayar dengan latihan super keras. Saya tak boleh mengecekannya.

Setiap Selasa dan Kamis pagi, saya ikut latihan para sprinter di Grand Island Pakuwon Kenjeran. Di sini selain banyak pembalap amatiran, juga ada pembalap beneran.

Speed rata-rata dalam lima putaran rolling bisa tembus 35-4 Kpj. Artinya sudah siap tancap pedal di medan flat Surabaya-Pasuruan. Sejauh 60 km.

Untuk latihan menanjak, saya hampir setiap Sabtu ke Pandaan. Finish di Masjid Cheng Hoo. Kadang belok ke Gudang Garang atau Hotel Surya Tretes. Sendirian.

Mengapa sendirian? Saya yakin gowes jarak jauh pasti kewer kewer. Ditinggal peleton yang dihuni pegowes seterong seterong (strong-kuat) itu..hehe.

Selama latihan saya selalu ingat Rahmad. Jangan sampai dia menyesal mendaftarkan saya. 

Bromo harus takluk. Tidak pakai loading hehe.

Pas, ada tantangan keponakan mengajak latihan gowes bareng (Gobar) ke Bromo, langsung saya iyakan. Enam orang berangkat dari Tikum (titik kumpul) Stasiun Waru.

Syaratnya, pergi pulang tidak boleh loading. Weii siap tok wis!

Target itu, memang sudah tertanam dalam hati. Saya ingin saat ikut Bromo KOM Challenge 2020, sudah punya bekal. Siap pulangnya mancal lagi. Ini harus terlaksana.

Lho? 

Tidak mungkin saya loading setelah sampai finish nanti. Seperti peserta lainnya yang siap mental dan materi. 

Saya hanya siap mental. Materi atau sangu cuma ada Rp 100 ribu. Cukup untuk bekal pulan sambil mancal lagi.

Tidak mungkin saya minta tolong Rahmad untuk nunut loading ke Surabaya. Ongkos loadingnya saja, IDR 400K persepeda dan peserta.

Saya juga malu jika harus numpang peserta yang belum kenal. Apalagi  dua teman satu tim di JCC sudah lock down pulang bareng kerabatnya. 

Juga rekan rekan dari Strattos Cycling Club yang pulang naik mobil.

Yowis, jalan satu satunya nekad pulang mancal. Sesuai niat awal. Wong mBahe Bonek haha...

Kuatkah?

Untuk memenuhi karep itu, saya memang sudah punya modal pengalaman gowes jarak jauh. 

Sebelum ini, saya pernah ikut Rally Bima Mataram 424 K, yang memakan waktu dua hari itu. Etape pertama nginep di Sumbawa setelah Gowes 200K.

Juga sudah pernah ikut Touring Mataram-Bali PP dengan Mataram Senior Cycling Club (MSCC). Dan, Tour de Bali dengan JCC dua hari.

Naik puncak lereng Gunung Rinjani juga pernah saya kayuh hingga Pusuk Sembalun. Setelah menginap semalam, kami berlima meluncur ke Mataram lewat jalur Bayan, Pemenang dan Pusuk. Total tempuh hampir 350K.

Tahun lalu, saya juga sempat uji kekuatan Tour de Surabaya-Sampang PP (200 K) di musim kemarau, yang digelar menyambut Anniversary SCC Surabaya. Rutenya flat. Dapat medali.

Jadi, saya yakin modal untuk gowes sendiri pulang dari  Bromo KOM. Mental sudah ok punya hehe..

Namun apa yang terjadi? Saat pulang dari Wonokitri jam 4 sore, pas mau masuk Gapura Bank Jatim Tosari,  ban depan meletus. Tos!

Wes ewes ewes...

Untungnya, posisi jalanan tidak terlalu curam turunnya. Agak datar. 

Saya bisa mengendalkan kemudi. Dan, singgah sejenak di warung nasi. Sembari ngeban.

Tak lama berselang  seorang peserta dari Semarang, yang juga enggan loading, turut menemani ngeban.

Tap, dia pamit turun duluan. Takut kemalaman sampai Surabaya. "Saya dari Pasuruan mau naik mobil sewa," pamitnya.

Tak lama dia pergi, datang seorang pria naik motor matic. Dia tulus ikhlas menawarkan diri.

"Kinging nopo (kena apa) Pak. Bocor ta. Monggo dinaikkan motor saya. Kita tambal di Pasuruan saja. Gratis," tawar pria yang nama panggilannya Cak Pitu ini

"Alhamdulillah, rejeki pegowes sholeh," ucap saya berbisik. Cak Pitu tersenyum dan bilang," Itung itung pados (cari) pahala pak..hehehe."

Cak Pitu kemudian menawarkan diri mampir di masjid sebelum masuk Pasuruan kota. Kami pun singgah sembari sholat jamak qosor. 

Di sini ketemu pembalap dari Kodam dan rekan SCC, Cak Kamto yang ditunggu kendaraan setelah sholat.

Seusai sholat, saya pingin mancal lagi. Tapi dilarang Cak Pitu. "Tasik tebih (masih jauh) paak," elaknya.

Saya melanjutkan lagi mbonceng  sampai Pom Bensin Pasuruan kota. Lumayan hemat stamina

Eee.. ndilala... Belum mancal pedal ada seorang pengendara motor yang empati. 

Dia tertarik dengan jersey Bromo KOM yang saya pakai dalam kondisi lusuh dan setengah basah.

"Lho, bapak yang tadi pagi ikut rombongan peleton itu ya," bilang pria yang mengaku mantan pembalap Pasuruan, tapi enggan menyebut nama ini.

"Monggo pak saya bonceng sampai Bangil," tawarnya. 

"Niki pun dalu. Langite gelap (Ini sudah malam, langitnya sudah gelap). Sampai Bangil bisa magriban," tambahnya dengan raamaah sekaliii ketika saya menolak tawarannya.

Dia pun memaksa ketika sepeda sudah saya kayuh 100 meteran. "Monggo Paak. Suroboyo tasik tebih. Mboten usah mbayar. Saya pingin nulung. Niki sampun dalu loo (Mari Pak. Surabaya masih jauh. Tak usah bayar. Saya ingin nolong. Ini sudah malam loo," rayunya.

Yaa.. yowislah! Lumayan, dapat rejeki pegowes sholeh lagi. Hehe....

Syukur alhamdulillah. Di saat badan terasa letih yang luar biasa, ternyata ada bonus gowes pulang ke rumah jadi tinggal 30 K. 

Saya akhirnya bisa nembel ban serep di Gempol. Lumayan bisa juga untuk sholat jamak Magrib dan Isya.

Puas!

Lega campur haru menggelayuti tubuh. Apalagi sesampai di rumah, senyum istri mewarnai kedatangan suami. 

Bagai pulang dari medan perang hehe..

Masya Allah, bisa ikut Bomo KOM kali ini, benar benar not imagane. I am sure, my Allah execellent!

Niat mBonek di Bromo KOM Challenge 2020, ternyata ada Rahmad yang membawa Rahmad. 

Alhamdulillah. Matur nuhun atas kebaikannya Mas!

Penulis : Ca' Amu (Abdul Muis)


Penulis :
Editor :

Tidak ada komentar:

Post Top Ad