Langgar SOP dari WHO, Negara kena Banned; Industri Farmasi Dikuasainya - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 18 April 2020

Langgar SOP dari WHO, Negara kena Banned; Industri Farmasi Dikuasainya

0 Viewers


Berita Rakyat, Jakarta.  Kemarin (17/04/2020) Eric Thohir menampakkan keterkejutannya ternyata 90% bahan baku obat bergantung pada impor. Bagi orang yang terbiasa bermain di bursa global, akan mengetahui bahwa ada diktator di bidang bisnis, maka itu hanya ada dua, yaitu, satu Software; kedua, Farmasi.

Kedua bisnis ini lewat ekosistem bisnisnya bisa seenaknya me-release produk baru dan orang dipaksa untuk membeli dan produk lama akan ditarik lewat update. Tidak ada yang bisa protes. Mengapa? Karena penguasa software Microsoft membuat aturan sendiri bagi usernya. Engga boleh didebat. Pharmacy dapat backing dari World Health Organization (WHO) untuk membuat aturan. Melanggar SOP dari WHO kena Banned

Mari kita lihat data. Dari tahun 2000 hingga 2018, 35 perusahaan farmasi besar melaporkan pendapatan kumulatif $ 11,5 triliun, laba kotor $ 8,6 triliun, EBITDA $ 3,7 triliun, dan laba bersih $ 1,9 triliun, sementara 357 perusahaan S&P 500 melaporkan pendapatan kumulatif $ 130,5 triliun, laba kotor $ 42,1 triliun, EBITDA $ 22,8 triliun, dan laba bersih $ 9,4 triliun. Kalau trend pendapatan perusahaan non farmasi cenderung menurun akibat krisis namun perusahaan farmasi terus meroket naik.
Dalam model regresi bivariabel, margin laba tahunan rata-rata perusahaan farmasi secara signifikan lebih besar daripada perusahaan S&P 500. Margin laba kotor farmasi 76,5% sementara non farmasi 37,4%. Perbedaan, 39,1% atau laba kotor perusahaan farmasi dua kali lipat lebih dibandingkan dengan bisnis non farmasi. Yang hebatnya dari total pendapatan 35 perusahaan raksasa farmasi dunia itu 60% berasal dari 10 industri farmasi.  Dari 10 itu, 6 adalah perusahaan Amerika. Hanya satu dari China. 2 Swiszerland, 1 lagi Denmark.

Yang lebih hebatnya lagi bahwa industri farmasi itu, menguasai dari sejak riset, pengadaan bahan baku, sampai ke pada distribusi. Praktis mereka menciptakan ekosistem bisnis yang memaksa orang harus membeli kalau orang pergi ke dokter atau ke rumah sakit. Walau World Trade Organization (WTO) mengharuskan adanya transparansi soal harga pokok agar tercipta keadilan dalam bersaing, namun satu satunya industri yang bisa melanggar ketentuan WTO hanyalah industri pharmasi. Mereka berhak tidak membuka berapa harga pokok mereka. Sementara sektor pertanian dan lainnya harus membuka  harga pokok agar bisa selamat dari banned tarif.

Apakah mereka itu benar benar raksasa? Saya ambil contoh Johnson & Johnson, yang merupakan raksasa yang berada di puncak piramid bisnis farmasi. Dia punya MarCap sebesar USD 395 billion. Itu hampir sama dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand. Bayangkan, kehebatan mereka. Hanya satu perusahaan saja tetapi kedigdayaan asetnya sama dengan PDB satu negara. Apalagi adanya tekanan dari WHO agar seluruh negara memberikan sistem jaminan kesehatan nasional, yang tentu mengikuti SOP-WHO- seperti kasus pandemi COVID-19-, maka industri farmasi-lah sebenarnya penguasa dunia. Mereka menjadi sandaran bagi semua manusia di planet bumi ini, yang tentu pada waktu bersamaan menjadi ancaman. Dengan cara itulah mereka menciptakan laba dan semua bisnis yang menjadi bagian dari ekosistem farmasi pasti tajir.


Penulis : Erizeli Jely Bandaro
Editor : El-Hadi

Tidak ada komentar:

Post Top Ad