Meyakini Manusia Pertama Dicipta Malam Kliwon - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 10 April 2020

Meyakini Manusia Pertama Dicipta Malam Kliwon

0 Viewers
Kisah Hidup Wong Samin di Hutan Jati Blora (2)


Wong Samin atau Sedulur Sikep dalam mengembangkan ajarannya tidak terlalu agresif. Mereka hanya bersikap pasif. Jika ada yang bertanya baru mereka jelaskan. Bahkan di kalangan generasi muda ajaran Samin tak begitu populer.

BAYANGAN penulis akan bertemu dengan warga yang mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala mendadak sirna.  Apa yang penulis lihat langsung saat memasuki kawasan pemukiman sedulur Sikep Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopodhuwur, Kecamatan Banjarejo, Blora?
Hampir tak ada warga baik laki, perempuan maupun anak-anak mengenakan pakaian kebesaran Wong Samin. Yakni busana serba hitam.
Bahkan sesepuh Wong Samin Mbah Lasio saat ditemui hanya mengenakan celana selutut dan bertelanjang dada. Dia tampak santai saat diwawancarai. Mbah Lasio baru beranjak saat penulis akan memotretnya.
’’Ken riyen kulo tak ganti klambi (tunggu dulu, saya ganti baju dulu),’’ pintanya. Selang lima menit, muncul Mbah Lasio dengan pakaian kebesaran Wong Samin. Hitam-hitam. Mengenakan ikat kepala hitam, baju lengan panjang hitam tanpa krah, dan celana komprang hitam dengan tinggi di atas mata kaki.
Menurut Mbah Lasio, pakaian kebesaran orang Samin hanya digunakan saat acara tertentu saja. Seperti menyambut tamu atau perayaan ritual keagamaaan. ’’Mboten didamel ben dinten (Tidak dipakai setiap hari),’’ akunya.
Penyebaran ajaran Sedulur Sikep Samin, lanjut Mbah Lasio, tidak dilakukan secara terang-terangan. Tapi, bagi yang tertarik atau ingin lebih tahu soal sedulur sikep, Wong Samin gsangat terbuka. Bocah-bocah Wong Samin di rumah yang sederhana.



 ’’Nek enten tiang tanglet nggih diterangno. Nek mboten takon nggih mboten usah dijawab (Kalau ada orang yang bertanya soal Samin ya dijawab. Kalau tidak bertanya ya, nggak perlu diterangkan,’’ ujarnya.
Apalagi, lanjut Mbah Lasio, tidak ada metode khusus dalam menyebarkan Saminisme. Sebab, ajaran Samin hanya bisa ditularkan melalui dialog intensif dari hati ke hati. Dan dipraktikkan dalam tingkah laku yang baik sesuai ajaran Saminisme.
’’Biasane malam Selasa Kliwon (Senin malamnya) atau malam Jum’at Kliwon (Kamis malamnya) pengikut Samin kumpul,’’aku Mbah Lasio.
Waktu berkumpul itulah para pengikut Samin mendapat pencerahan dari mbah Lasio. Mereka bahkan napak tilas dengan  semedi di jalan setapak di perempatan hutan. Sekitar 500 meter di belakang pemukiman Wong Samin. ’’Di sini dulu Bung Karno bertemu Pak Engkrek, satu dari tiga tokoh penggerak sekaligus pengagas ajaran Samin sebelum Bung Karno memproklamasikan RI,’’ ujar Poso, pengikut Saminisme.
Menurut Mbah Lasio, dari semedi di tempat keramat itulah beberapa masalah terpecahkan. Makanya, kalau mau mengambil keputusan atau memberikan saran bagi mereka yang bermasalah, Mbah Lasio selalu menyempatkan semedi dulu di jalan perempatan tadi.
Siang itu  saat penulis menyusuri jalan setapak hutan jati menemukan jalan keramat yang dimaksud. Secara fisik tidak ada bedanya dengan jalan setapak di hutan.
Lokasinya persis di perempatan jalan, di tengah hutan dengan posisi paling tinggi. ’’Ini tempat petilasan keramat bagi warga Samin. Setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kami berkumpul di sini,’’ ujar Poso pengikut Samin.
Sepintas persimpangan jalan itu tampak biasa. Namun nilai sejarahnya sangat tinggi. Sebab, sebelum merdeka Bung Karno menemui salah seorang penggagas aliran Saminisme yakni, Pak Engkrek yang sekarang keturunannya menempati Dukuh Karangpace, Desa Klopodhuwur. ’’Dulu sebelum ada jalan aspal orang ya lewat sini,’’ tambah Poso.
Di samping jalan perempatan didirikan semacam pos berukuran 3 x 4 meter. ’’Biasanya habis semedi kita kongkow di pos itu. Ya..ngobrol berbagai hal,’’ tambah orang kepercayaan Mbah Lasio itu.
Mengapa dipilih malam Kliwon, karena orang Samin mempercayai manusia pertama yang diciptakan Allah ya pada malam Kliwon. Kembali ke ajaran Samin, karena sifat penyebarannya yang pasif membuat pengikut Samin yang benar-benar mendalami, mengajarkan dan mempraktikkan ajaran Sedulur Sikep bisa dihitung jari.
‘’Teng Klopodhuwur enten tiang pitu (di Klopodhuwur hanya ada tujuh orang},’’tutur Mbah Lasio.
Sebaliknya di luar Klopodhuwur ajaran Samin berkembang pesat. Ada komunitas Wong Samin mulai di Semarang, Purwodadi, Kendal, Pati, Kudus, Rembang, Cepu, Blora dan kota besar lainnya.
Makanya, Mbah Lasio kerap diundang ke wilayah itu untuk mengajarkan Saminisme.  Pengikut Samin terbatas karena ajaran ini cukup berat.
Sebab, untuk mengajarkan ajaran Samin ada syaratnya. Minimum berusia 30 tahun atau sudah nikah atau kawin. Makanya, anak kecil meski itu anak Wong Samin belum diajari secara mendalam soal Saminisme. Karena dipandang belum kuat atau terlalu berat. ’’Engken ndak stres (Nanti bisa gila,’’ ujar Mbah Lasio.
Bahkan meski usianya sudah di atas 30 tahun atau sudah nikah pun kalau dipandang mentalnya belum stabil, mereka tidak diajarkan secara mendalam soal ajaran Sedulur Sikep. Paling-paling kulitnya saja   Karena itu, tak heran banyak anak orang Samin kalau ditanya apa itu Sedulur Sikep atau Saminisme hanya geleng kepala.
Mereka tahunya  hanya sebatas ajaran yang bersifat umum. Misalnya harus berkata jujur. Tidak boleh berkelahi. Tidak boleh mencuri sebagaimana yang diajarkan keluarga pada umumnya.  ‘’Tahunya ya sebatas itu,’’ kata Eko Purnomo, anak Wong Samin yang kini kelas satu SLTA di Blora.
Bahkan anak-anak yang lebih muda seperti mereka yang duduk di bangku SD hampir semua menjawab tidak tahu jika ditanya apa itu Samin atau Sedulur Sikep. Layaknya anak-anak kota, mainan mereka pun HP, meski keluaran lawas.
Sebaliknya, karena tempatnya yang asri di tengah hutan, banyak remaja Blora memanfaatkan pemukiman warga Samin untuk foto atau selfie. Pilihan utama dengan latar belakang papan nama dusun atau pendopo.
Seperti yang penulis saksikan saat seharian di kompleks pemukiman Wong Samin.  Namun warga Samin sangat fleksibel. Welcome.
Siapa pun boleh masuk dan menjadi pengikut Saminisme. Tanpa membedakan suku, agama, dan warna politik.
Di mata pengikut Sedulur Sikep, semua agama itu baik. Yang membedakan itu hanya kelakuan atau tindak tanduk yang bersangkutan.
Orang bukan diukur dari agamanya, tapi perbuatannya. ‘’Ukurane tiang niku awon nopo sae nggih tumindak e niku (Ukuran seseorang itu buruk atau baik dilihat dari perbuatannya),’’ ungkapnya.
Namun, sebagian besar Wong Samin yang berada di Klopodhuwur beragama Islam. Meski tidak sepenuhnya menjalankan syariat Islam, seperti shalat, puasa Ramadhan.
Seperti saat penulis mengajak shalat berjamaah di ruangan kecil dekat pendopo kepada Poso, pengikut Samin yang juga orang kepercayaan Mbah Lasio. ’’Shalat sendiri saja. Saya tidak shalat,’’ tampiknya halus.
Poso menjelaskan sekitar 62 KK yang menghuni kampung Samin di Klopodhuwur umumnya beragama Islam karena ada kemiripan.
Misalnya, sama-sama keturunan Nabi Adam. ’’Kalau baca Syahadat ya saat nikah saja,’’ ujar Poso. Hal yang sama juga diakui Mbah Lasio sebagai sesepuh Sedulur Sikep Samin Dusun Karangpace, Desa Klopodhuwur, Kecamatan Banjarejo, Blora.
Meski mengaku Islam, namun tidak menjalankan shalat dan puasa Ramadhan. ’’Kulo mboten shalat dan poso Ramadhan. Tapi, poso syuro (saya tidak shalat dan puasa Ramadhan, tapi puasa bulan Syuro (bulan Muharam),’’ aku Mbah Lasio.
Tahun 2020 ini misalnya, jatuh hari Kamis 20 Agustus, awal bulan Muharam. Awal bulan Ramadhan tahun 2020 ini jatuh pada hari Jumat 24 April.
Puasa yang dimaksud Mbah Lasio puasa Syuro karena dilaksanakan bulan Syuro dalam penanggalan Jawa. Lamanya pun 36 hari. Namun puasa versi Mbah Lasio hanya dilarang makanan yang sehari-hari dikonsumsi Wong Samin. Seperti nasi, jagung atau ketela rambat.
Di luar itu, seperti merokok dan minum tidak dilarang.  Mereka juga dilarang bicara yang tidak perlu. Apalagi bicara kotor yang membuat orang tersinggung.
’’Kudu ngomong sing becik (harus berbicara yang baik),’’ ingat Mbah Lasio.
Puasa lainnya misalnya puasa tujuh hari, saat kelahiran anak. Dan beberapa hari yang dinggap sakral oleh orang Samin.
Namun, Wong Samin cukup toleran dalam beribadah. Dalam keluarga Mbah Lasio misalnya, isterinya tetap menjalankan shalat. Begitu juga ibunya Mbah Sila yang berusia 80 tahun. ’’Kulo nggih shalat gangsal wektu kados ajaran Islam (saya ya shalat lima waktu sesuai ajaran Islam),’’ jelas Mbah Sila.
Mbah Sila mengaku mengenal Islam dan shalat sejak 10 tahun terakhir. Yang mengajari shalat saudara menantunya saat bersilahturahmi di Kudus. ’’Wong Islam niku kudu shalat (orang Islam itu wajib shalat),’’ ingatnya saat itu.
Sejak saat itu, Mbah Sila belajar salat dan menjalankan kewajiban muslim tersebut minimal lima kali dalam sehari. Mbah Lasio sebagai anak Mbah Sila sekaligus sesepuh Wong Samin tidak melarang keluarganya menjalankan syariat Islam. ’’Niku tambah bagus,’’ katanya.
‘’Sedoyo agama niku sae. Nopo maleh nek dijalankan (semua agama itu baik. Apalagi, kalau dijalankan),’’ tambahnya.
Untuk shalat  berjamaah hanya ada satu mushola terdekat, sekitar 200 meter dari Pendopo Sikep Samin. Letaknya persis di tepi hutan, di ujung pematang berukuran 5 x 7 meter.
Untuk menuju mushola melewati jalan hutan setapak. Meski menjelang Magrib, cuaca sudah gelap. Beruntung ada pengeras suara, jadi bisa dipakai panduan mencari asal lokasi suara Adzan.
Di mushola hanya ada tiga jamaah dewasa termasuk penulis. Empat jamaah anak laki-laki dan tiga jamaah perempuan. ’’Sehari-hari ya begini karena letak mushola agak jauh. Kalau Subuh ya tidak ada jamaah. Shalat sendiri-sendiri di rumah. Sebab, jalan gelap nanti khawatir dipatuk ular,’’ jelas Sugeng, takmir mushala Nur Huda.
Ditambahkan Sugeng, pada umumnya warga Samin memeluk agama Islam. Mereka juga mengikuti berbagai kegiatan termasuk pengajian. ’’Hari ini sebenarnya habis Magrib diisi pengajian. Tapi, ustadnya lagi keluar desa karena ada keperluan,’’ terangnya.
Karena itu, hubungan antara pemeluk Islam dan warga Sedulur Sikep Samin cukup harmonis. Terbukti, salah satu jamaah bernama Ngdiman, 45 tahun, yang mengantar penulis balik ke pendopo karena hafal jalan setapak tampak akrab dengan Mbah Lasio. ’’Kami ini semua bersudara. Jadi, rukun,’’ aku Ngadiman.
Suasana sore hari sekitar Pendopo Sedulur Sikep Samin hiruk pikuk oleh teriakan anak-anak yang bermain sepakbola. Begitu Magrib tiba mendadak sunyi. Hanya raungan binatang hutan bersahutan. Tak ada orang lalu lalang.  Malam begitu senyap. Mungkin sesunyi hati Wong Samin yang berdamai dengan alam sekitarnya.
Malam itu juga penulis meninggalkan Dusun Karangpace, Desa Klopodhuwur menuju Blora berjarak 8 kilometer. Diantar sepede motor anak Mbah Lasio, karena sudah tidak ada angkutan umum. (Bersambung)





Penulis : Bahari
Sumber: CowasJP.com

Tidak ada komentar:

Post Top Ad