Gaya Robin Hood ala Raden Kohar - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Sabtu, 11 April 2020

Gaya Robin Hood ala Raden Kohar

0 Viewers




Kisah Hidup Wong Samin di Hutan Jati Blora (3-Habis)



Sedulur Sikep bagi Wong Samin tak hanya pedoman hidup. Tapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Wong Samin begitu toleran dan menyesuaikan zaman. Di zaman penjajahan Wong Samin menolak sekolah dan membayar pajak. Kini sebaliknya, anak-anak Samin berlomba meraih pendidikan tinggi. Agar kehidupannya sejajar dengan warga lainnya. Kini mereka juga membayar pajak dan mendukung program pemerintah.
^^^
Inilah seri ke-3 (terakhir) tulisan Bahari tentang Sedulur Sikep Samin:
SEDULUR Sikep Samin adalah salah satu suku yang berdiam di sekitar Pegunungan Kendeng. Dengan wilayah memanjang dari Pati di Jawa Tengah hingga Tuban di Jawa Timur. 
Selain disebut Samin atau orang Samin, sebutan lainnya penganut Saminisme ini, seperti wong Samin (orang Samin), wong Sikep (orang Sikep). Sedulur Sikep ataupun orang Kalang. Yang terakhir, digunakan sebagai hinaan pada orang Samin, sebagai orang rimba yang tak tahu sopan santun.
Orang Sikep sangat menjunjung tinggi kejujuran, welas asih, persaudaraan, dan mencintai lingkungan hidup serta alam semesta. 
Sejarah Samin sendiri  tidak dapat dipisahkan dari Raden Kohar. Tokoh politik dan intelektual yang hidup pada masa penjajahan Belanda di abad 19 (1801 – 1900). Beliaulah tokoh penyebaran ajaran Saminisme. 
Raden Kohar keturunan bangsawan. Ia lahir 1859 di Ploso, Kedhiren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Ia putra Raden Surawijaya, atau yang oleh masyarakat Sedulur Sikep disebut Samin Sepuh. 
Raden Kohar memiliki hubungan darah dengan Kyai Keti, tokoh dari Rajegwesi, Bojonegoro, Jawa Timur dan Pangeran Kusumoningayu, penguasa daerah Sumoroto. Kini Kabupaten Tulungagung.
Seperti Robin Hood di Inggris, Raden Kohar mengajak para begundal dari Rajegwesi merampok orang kaya dan tuan tanah. Lalu membagikan hasil rampokannya kepada orang-orang miskin. 
Untuk lebih mendekatkan diri kepada wong cilik, ia berganti nama menjadi Samin Surosentiko. Oleh pengikutnya, ia dipanggil Kyai Samin. Kelak nama itu menjadi sebutan ajaran dan pengikut dalam  melestarikan ajarannya.
Kyai Samin juga mengajarkan kepada rakyat tentang metode baru melawan penjajah Belanda. Dengan menolak membayar pajak. Ini membuat pemerintah penjajah Belanda geram. 
Tahun 1890, Kyai Samin mulai menyebarkan ajarannya kepada rakyat di Klopodhuwur, Blora, Jawa Tengah. Hanya dalam waktu singkat, Kyai Samin memiliki banyak pengikut yang umumnya petani miskin. 
DIBUANG KE SAWAHLUNTO
Belanda mulai curiga. Melalui pejabat Desa dan antek-anteknya, Belanda meneror  penganut Saminisme. Hal ini cukup membuat gerak Kyai Samin dan para pengikutnya terbatas, tidak leluasa.
Puncaknya 1907, Samin Surosentiko dan delapan pengikutnya ditangkap Asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo. Mereka kemudian dibuang ke Sawahlunto, Sumatera Barat. Ikut disita kitab suci Wong Samin bernama Jamus Kalimasada. Hingga akhirnya Kyai Samin meninggal 1914.
Ditangkapnya Kyai Samin tidak membuat pengikutnya kapok. Mereka semakin bersemangat menyebarkan ajaran Saminisme ke berbagai penjuru mata angin.
sikep1.jpgMakam Almarhum Pak Engkrek yang menyebarkan ajaran Saminisme di Desa Klopodhuwur. (FOTO: Bahari/Istimewa)
Ajaran Saminisme pun berkembang pesat di kota-kota daerah utara Pulau Jawa. Tetapi dua tempat, yakni Desa Klopodhuwur di Blora dan Desa Tapelan di Bojonegoro, tetap menjadi pusat ajaran Saminisme. 
Beberapa kota yang memiliki komunitas Sedulur Sikep antara lain Kudus, Blora, Purwodadi, Sragen, dan Pati di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, ajaran Saminisme juga sempat berkembang pesat di Bojonegoro, Ngawi, Madiun, dan Tuban di Provinsi Jawa Timur.
Golongan tua kaum Samin hingga kini tetap menganut agama yang sama dengan yang dianut orang Samin awal. Yaitu agama Adam. Agama Adam dikembangkan pendiri gerakan Samin, Kyai Samin, sebagai agama kaum Samin. 
Dalam agama Adam, nilai-nilai moralitas seperti kejujuran, welas asih, tangggung Jawab, dan menyayangi alam sangat ditekankan.
Selayaknya agama lainnya, agama Adam juga memiliki kitab suci. Disebut Kitab Jamus Kalimasada. Kitab berisi berbagai ajaran dan falsafah hidup tertulis dalam bentuk syair atau guritan.
Sebagian orang menilai agama Adam ala orang Sikep ini merupakan kombinasi atau sinkretisme dari ajaran Hindu Jawa, ajaran Buddha, dan Islam. Hindu Jawa mirip seperti dianut orang kejawen/kebatinan Jawa. 
Sedang oleh beberapa peneliti, agama Adam dipandang sebagai agama bumi (lawan dari agama samawi/agama langit). Mereka juga menyebut agama Adam sebagai sebuah aliran kepercayaan segolongan dengan aliran animisme dan dinamisme. Orang Samin jelas tidak bisa menerima ini. Walau kini banyak juga generasi muda Samin mulai menganut Islam. 
Agama Adam sendiri mengajarkan tidak membenci penganut agama lain. Itulah mengapa orang Sikep tidak pernah bermusuhan dengan penganut agama lain. 
’’Kabeh agama niku sae. Kabeh tiang niku sae. Tergantung tumindake. (Semua agama baik. Semua orang itu baik. Tergantung perbuatannya),’’ ujar Mbah Lasio.
Pengikut gerakan sosial Samin awalnya memegang lima prinsip perjuangan untuk meneguhkan identitas melawan kolonial: 
TIDAK BERSEKOLAH (sekolah kolonial). 
TIDAK MEMAKAI PECI. 
TAPI MEMAKAI “IKET” KAIN, yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu. 
TIDAK BERPOLIGAMI. 
HANYA PAKAI CELANA SELUTUT. 
TIDAK BERDAGANG. 
MENOLAK KAPITALISME. 
‘’Tapi kalau istri meninggal boleh nikah lagi,’’ kata Poso, pengikut Samin.
Seiring dengan perubahan jaman, lima prinsip ini mengalami penyesuaian.  Yang jelas sekarang warga memiliki kesadaran untuk menuntut ilmu. Sekolah yang setinggi-tingginya. Mendukung program pemerintah. Juga ikut membayar pajak bumi dan bangunan .
’’Saniki sing kuoso sedulur kiambak. Kudu dieloki. (Sekarang yang berkuasa saudara sendiri. Harus dipatuhi,’’ tambah Mbah Lasio.
Ajaran Saminisme yang berkembang saat ini, kata Mbah Lasio, tidak bisa dipisahkan dengan tiga tokoh Sedulur Sikep.
Pertama, Suro Sumanto yang mengembangkan ajaran Saminisme di Pulau Bali. Tepatnya, di Istana Tapak Siring Bali. Bahkan makam Suro Sumanto berada satu kompleks di Istana Tapak Siring. 
Kabarnya, Bung Karno kalau ke Istana Tapak Siring kerap nyekar, bahkan bersemedi di makam itu.
’’Kami berdua (saya dan Mbah Lasio) beberapa bulan ke ke Istana Tapak Siring untuk nyekar sekaligus menggelar ritual mandi malam tujuh air,’’ kata Poso.
Kedua, Samin Surosentiko bersama para pengikutnya menyebarkan ajaran Sedulur Sikep di Desa Klopodhuwur. Kini komunitas Samin Surosentiko tersebar di Desa Bapangan, Kecamatan Randublatung, dan sebagaian pengikutnya di Dusun Sambongrejo, Desa Sambong, Kecamatan Cepu, Blora.
’’Atas biaya seorang pengusaha gula kami berdua (saya dan Mbah Lasio) tahun lalu mengunjungi makam Samin Surosentiko di Sawahlunto, Sumatra Barat,’’ kata Poso, pengikut ajaran Samin.
Ketiga, Pak Engkrek yang menyebarkan-luaskan ajaran Saminisme atau Sedulur Sikep di Desa Klopodhuwur hingga akhir hayatnya. Makamnya yang sederhana berupa kotak persegi empat. Yang di atasnya diberi (dibangun) rumah berukuran 4 x 5 meter di kompleks pemakaman umum Desa Klopodhuwur. Banyak diziarahi pengikut Samin saat ke Klopodhuwur.
sikep2.jpgGapura Dukuh Karangpace, Desa Klopodhuwur, Blora. (FOTO: Bahari/Istimewa)
Mbah Lasio yang kini didapuk sebagai sesepuh Wong Samin di Dusun Karangpace, Desa Klopodhuwur adalah generasi ke-4 anak keturunan Pak Engkrek. Yang terus melanjutkan ajaran Sedulur Sikep. 
’’Sampai turunan pitu sesepuh Samin kudu diisi wong lanang (Sampai keturunan ketujuh, sesepuh wong Samin harus diisi orang laki-laki dari keturunan Pak Engkrek),’’ terang Mbah Lasio.
Menurut Mbah Lasio, ada beberapa perbedaan kecil antara Sedulur Sikep dalam menyikapi beberapa masalah. Misalnya, Wong Samin yang berada di Klopodhuwur tak masalah mencantumkan agama Islam dalam KTP mereka. Sebaliknya penganut Saminisme di Bapangan memilih mengosongkan agama dalam KTP mereka. ’’Sing kuoso saniki lak sedulur dewe yo monggo diikuti saja. (Yang berkuasa sekarang kan saudara sendiri ya diikuti saja),’’ ujar Mbah Lasio.
Perjuangan untuk menjalankan ajaran Sedulur Sikep Samin mengalami pasang surut. Jika di jaman Belanda Wong Samin ada yang terang-terangan menolak segala hal yang berbau atau produk penjajah. Sebaliknya, era orde lama di jaman Bung Karno, penyebaran ajaran Samin begitu leluasa karena ada hubungan baik antara Wong Samin dengan pemerintahan Bung Karno.
Sebaliknya era Presiden Soeharto dengan orde barunya tak memberi keleluasaan pengembangan ajaran Wong Samin. Itu karena Wong Samin menerima beberapa orang dari Jepara yang dituding sebagai orang yang terlibat atau bersimpati terhadap pemberontakan G 30 S/PKI.
’’Mereka datang mengungsi dan minta pertolongan ya..ditolong. Sebab, semua orang di mata Wong Samin saudara. Kalau ada yang minta tolong ya kita tolong. Hal itu kemudian dipolitisir, hingga merugikan Wong Samin,’’ ujar Poso, orang kepercayaan Mbah Lasio.
Sejak itu pengembangan ajaran Samin mati suri karena terus diawasi pemerintah. Baru 15 tahun terakhir sejak reformasi bergulir ajaran Samin berdenyut kembali.
Wong Samin sejak jaman kolonial Belanda hingga orde baru dicap sebagai pembangkang. Dicap bodoh karena kejujurannya. Resek, menurut bahasa gaul. 
Tapi sekarang berganti menuai simpati.
Ajaran Samin yang mengedepankan kejujuran, kasih sayang, dan pantang merusak alam kini mendapat simpati luas. Puncaknya, dibangunlah Pendopo Sedulur Sikep miliaran rupiah hasil sumbangan pemerintah. Berbagai pihak termasuk asing.
’’Biyen difoto mawon ajrih. Damel nopo. Saniki nggih mboten. (Dulu difoto saja kita takut dan curiga. Sekarang tidak lagi),’’ aku Mbah Samin. Bahkan tahun 2015 Presiden Joko Widodo mengunjungi pemukiman Wong Samin di Dukuh Karangpace, Desa Klopodhuwur. Disemarakkan dengan acara panen raya jagung.  
Kini, Sedulur Sikep Samin justru naik daun. Sikap jujur, sederhana, hidup berdampingan alam kini banyak menarik berbagai kalangan. Baik sejarawan, peneliti, maupun mahasiswa untuk dijadikan obyek penelitian.
Pemkab Blora pun kini menjadikan Samin sebagai ikon Kabupaten Blora. Terbukti, Bupati Blora mewajibkan setiap PNS pada hari Kamis dalam minggu terakhir tiap bulan, mengenakan pakaian kebesaran wong Samin. Serba hitam. Mulai ikat kepala, baju hitam lengan panjang tanpa krah, dan celana hitam di atas mata kaki.
Mbah Lasio bercerita, sebelum Pemkab Blora menetapkan pakaian Wong Samin jadi ikon Blora, dirinya dipanggil ke Kantor Pemkab. Untuk menjelaskan beberapa hal terkait arti baju kebesaran Wong Samin.
Menurut Mbah Lasio, iket kepala bisa diartikan setiap penganut Samin harus mengikat atau mengendalikan hawa nafsu yang tidak baik. 
Warna hitam mencerminkan bahwa setiap warga Samin mengakui kalau diri mereka tidak resik (bersih) dari dosa dan perbuatan tercela. ’’Kulo terangaken ngoten. (Saya terangkan begitu),’’ tutur Mbah Lasio.
KINI JADI DESA WISATA
Kawasan pemukiman Sedulur Sikep Samin di Dusun Karangpace, Desa Klopodhuwur, Kecamatan Banjarejo, Blora, kini dijadikan desa wisata.
’’Kito nggih remen-remen ae. (Kita ya senang-senang saja),’’ kata Mbah Lasio. 
Mbah Jamil , 90 tahun, mungkin pengikut Wong Samin paling tua di Klopodhuwur mengaku orang tua dan kakek buyutnya adalah penyebar ajaran Sedulur Sikep. ‘’Kait sinten nggih koyo meniko. (Dari dulu ya begini),” ujar Mbah Jamil mnnceritakan kondisi Sedulur Sikep di Klopodhuwur. 
Sosok Mbah Jamil meski sudah sepuh, jalannya saja membungkuk, tapi semangat kerja Mbah Jamil khas orang Samin. Masih berkobar. Ia masih ngemong (mengasuh) anak dan cucunya. Bahkan dengan jalan membungkuk ia menyusuri pematang mencari rumput untuk ternak kambingnya.
’’Nggih niki ingon-ingon kulo. (Ya ini binatang peliharaan saya),’’ ujar Mbah Jamil seraya menunjuk tiga ekor kambing di depan rumahnya. ’’Wong Samin kudu nyambut nak (Orang Samin harus kerja),’’ akunya
Ditambahkan Wakiyono, 40 tahun, anak Mbah Lasio, dulu orang menolak jika dikaitkan dengan orang Samin. Bahkan mereka menghindar karena dipersepsikan negatif. Dituding pembangkang, tidak tahu aturan dan dikonotasi kan miring lainnya. 
Kini, saat Sedulur Sikep Samin naik daun banyak orang-orang mengaku warga Samin.
Misalnya, saat ditilang karena tidak pakai helm saat  berkendara, mereka berkilah begini. ’’Kita beli motor tidak ada helmnya dari agen,’’ kata Wakiyono menirukan ucapan pengendara yang meniru gaya ngeles orang Samin. ‘’Tapi, itu keliru karena jelas melanggar hukum,’’ ingatnya.
Yang menjengkelkan, lanjut Wakiyono, selain banyak orang mengaku pengikut wong Samin, tak sedikit yang memanfaatkan nama Samin untuk keuntungan pribadi. Bahkan menipu dengan menggunakan nama orang Samin. ’’Ini yang banyak terjadi sekarang,’’ jelas Wakiyono salah satu calon penerus ajaran Sedulur Sikep Samin. (Habis)

Tidak ada komentar:

Post Top Ad