Jauh Sebelum Wabah Covid-19, Siti Fadilah Supari telah Melawan Bisnis Virus WHO (2) - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Minggu, 19 April 2020

Jauh Sebelum Wabah Covid-19, Siti Fadilah Supari telah Melawan Bisnis Virus WHO (2)

0 Viewers


Berita Rakyat, Surabaya. Tulisan kedua dari dua tulisan.

Melalui laboratoriumnya yang bernama Global Influenza Surveilance Network (GISN), WHO menetapkan sebuah peraturan tentang virus sharing mechanism. Dimana ketika sebuah Negara mendapati pasien yang terkena virus baru, ia wajib menyerahkan sampel specimen virus kepada WHO secara cuma-cuma.

Dan setiap Negara yang tergabung dalam World Health Organization (WHO) sudah sepatutnya tunduk atas peraturan yang ditetapkan oleh petinggi WHO.

Pada tahun 2004 pertama kali Virus Flu Burung (H5N1) menerjang Vietnam. Tak lama pada tahun yang sama Thailand juga disapu Virus Flu Burung. Sesuai peraturan GISN, Vietnam dan Thailand wajib mematuhi peraturan GISN.

Vietnam sebagai negara pertama yang tertimpa virus influenza unggas tersebut segera menyerahkan kepada WHO tanpa mencari tahu untuk apa dan jatuh ke tangan siapa saja virus itu. Tentu hal ini bisa dimaklumi karena kesibukan Vietnam dalam mengatasi wabah Flu Burung yang menyebabkan banyak masyarakatnya meninggal dunia.

Dan, tak lama kemudian telah beredar Vaksin Flu Burung di berbagai negara yang diperjualbelikan dengan harga melangit. Ternyata, vaksin yang beredar adalah vaksin Flu Burung Vietnam Strain. Artinya vaksin tersebut diproduksi berdasarkan sequence genome dari virus Flu Burung yang berasal dari Vietnam.

Sebagai sebuah negara berkembang, harga vaksin yang harus ditebus oleh Vietnam dan Thailand termasuk berbandrol mahal. Namun apadaya, Vietnam dan Thailand berpacu dengan waktu. Membiarkan masyarakatnya semakin banyak yang bergelimpangan, atau, harus mendapatkan vaksinnya walau akan menguras APBN-nya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Paska memuncaknya statistik korban manusia dari Virus H5N1 di kedua negara di atas, pada pertengahan tahun 2005 di Indonesia terdeteksi pertama kali ada 3 warga Tangerang terpapar virus Flu Burung. Kendati sebelumnya, sejak tahun 2003 di Indonesia Flu Burung menyebabkan kematian banyak unggas, namun belum menular dari unggas ke manusia.

Pada awalnya, Menteri Kesehatan Dr. Siti Fadilah Supari sebagaimana kedua Negara Tetangganya yang tertimpa musibah Flue Burung, mematuhi peraturan GISN karena Indonesia juga tercantum sebagai anggota WHO.

Akan tetapi Siti Fadilah Supari mengetahui bahwa virus yang dikirimkannya itu telah berpindah tangan pada sebuah laboratorium di bawah departemen energy Amerika Serikat. "Los Alamos National Laboratory" namanya, berpusat di Mexico.

Semua virus H5N1 yang dikirim ke WHO jatuh ke tangan-tangan haram, yaitu para ilmuwan Los Alamos National Laboratory. Di sini hanya ada 4 orang dari WHO, 11 selebihnya tak terdaftar sebagai ahli WHO. Lembaga inilah yang selama ini menguasai data sequencing H5N1. Tak ada negara lain yang pernah menerima keterbukaan informasi data sequencing H5N1 bahkan yang pernah negara tersebut kirimkannya.
Sang Super Women Siti Fadilah Supari tak tinggal diam atas semua kejadian ini. Peraturan yang telah ditetapkan sejak 50-an tahun sebelumnya diketahui sebagai peraturan yang zalim. Apalagi diketahui bahwa laboratorium "Los Alamos National Laboratory" berada di bawah Kementerian Energi Amerika Serikat. Dimana di laboratorium inilah Bom Atom dirancang untuk meluluhlantakkan Hiroshima pada tahun 1945. Dan kini kenapa laboratorium ini dijadikan mitra ilegal oleh WHO?

Siti Fadilah Supari paham bahwa tujuan didirikannya organisasi termasuk WHO adalah untuk kepentingan dan keuntungan semua anggotanya. Namun apabila peraturan organisasi itu dibuat dengan tujuan untuk kepentingan beberapa gelintir orang dan menyengsarakan semua anggotanya, maka akankah  Indonesia sebagai anggota WHO hanya diam tidak menentang arogansi tersebut?

Tidak.

Virus yang sudah diberikan oleh Indonesia ke WHO diminta kembali oleh Sang Menteri SBY itu.
Ia berani berhadap-hadapan dengan para Petinggi WHO walau harus ia tempuh dengan seorang diri. Setiap negara  berhak atas akses informasi data sequencing H5N1. Setiap negara anggota WHO berhak atas pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau Dan WHO tidak berhak menyengsarakan negara anggotanya demi untuk keuntungan pribadi atau lembaga hasil kerjasama ilegal.

Siti Fadilah terus mendesak WHO agar segera mengembalikan 58 virus asal Indonesia. Perlawanan demi perlawanan ia jalani. Hingga berbuah International Government Meeting (IGM) WHO memenangkan semua tuntutan Fadilah di Jenewa pada Mei 2007. Tuntutan Fadilah atas sharing virus disetujui. Dan GISN dihapuskan.

Namun sayang, ketika buku laris yang mengisahkan perjuangan Indonesia di kancah Internasional  itu diperintahkan oleh Sang Presiden kala itu untuk ditarik dari peredarannya.

Penulis : El-Hadi
Sumber: Buku Saatnya Dunia Berubah

Tidak ada komentar:

Post Top Ad