Covid-19; China Membuat Senjata Biologi? - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 20 April 2020

Covid-19; China Membuat Senjata Biologi?

0 Viewers


Berita Rakyat, Jakarta.  Saya bertemu dengan dia dalam suasana santai. Walau Jakarta mencekam. Karena ada himbauan pemerintah agar orang lebih baik tinggal di rumah untuk terhindar dari penyebaran virus corona. Himbauan ini bagian dari gerakan menjaga jarak sosial atau  social distance, yang katanya efektif menghindari penyebaran Covid-19.

China atau AS-kah asal COVID-19?

Virus itu diciptakan oleh AS,“ Katanya.

Kamu sedang berteori? Kataku tersenyum. Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan.

Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID-19 ini.  Sekedar untuk mengetahui dari mana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.

Wow hebat kamu.”

Dalam dunia yang serba terbuka seperti sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama.”

Ok-lah, Apa yang kamu ketahui? Aku mau dengar!

Yang pasti Virus itu bukan berasal dari China.

Jadi, dari mana?"

Satu-satunya Lab. yang punya sampel Virus hidup dengan lima jenis GEN adalah Bio-Lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sampel jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru.“

Ok. Bagimana kamu bisa simpulkan itu? Kataku mengerutkan kening.

Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologi Jepang dan Taiwan. Mereka bilang coronavirus gen baru berasal dari AS.

Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?

Itu berdasarkan fakta. Pada Agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat ada pasien di AS menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat AS. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika.

Terus…”

Pada bulan September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di AS jauh sebelum  terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data Agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar 10 ribu orang di 22 negara bagian AS.

Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flu Amerika yang menyerang perokok Vaping

Itu ulah propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok. Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktifitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.

Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) telah menghentikan  bio-lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran patogen.” Kataku mencoba membantah hubungan Bio Lab dengan keberadaan virus itu.

Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran lab. itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.

Ok-lah. Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu.


Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan Oktober 2019, di media massa China ada berita tentang pertandingan militer dunia atau The Military World Games. Lima atlit dari 200 atlit AS yang ikut dalam MWG dirawat di Rumah sakit di Wuhan.

Apa penyakitnya?

Terinfeksi virus. Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat 2 minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal November 2019. Nah anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland AS. Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode NCov-2019.  Padahal ketika itu istilah dan kode NCov-2019 belum ada. Bagaimana mereka tahu? Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.

Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya

OK. Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh  Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada tanggal 18 September. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan.

Terus…” Saya mulai penasaran.

Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China Academy Science. Dalam artikelnya  menyampaikan rincian tentang 41 pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positip terinfeksi apa yang disebut dengan  Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV). Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, 13 dari 41 kasus tidak pernah ke pasar seafood.”

Apa artinya?

Walau sebagian besar memang punya catatan berkunjung ke pasar Seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum Desember. Pastinya bulan November 2019 atau lebih awal.

Masih belum memuaskan teori kamu” Kata saya.

Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-NCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenario yang masuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik. Bukan seafood sebagai penyebar, tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap 27 genom 2019-NCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu pada tanggal  1 Oktober 2019."

Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada tanggal 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien atlit AS.  Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal AS itu di China. Setelah itu ada Hari Raya Imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar besaran orang kota ke desa untuk merayakan Imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen  China cepat mengatahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan.” Kataku mencoba merangkai semua argumennya.

Cobalah bayangkan, andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan 16 juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb Atom Nagasaki Hirosima. Yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam perang dunia kedua. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasip sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu  siapa itu AS dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri.“ Katanya.

Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

Saya baca dari internet. Christian Drosten memposting urutan genetik dari coronavirus pada 28 Februari. Dia mengingatkan akan ada penyebaran virus ke seluruh dunia. Pada media online GISAID, dia membagikan informasi lebih dari 350 sekuens genom. Artinya jenis corona virus itu bukan hanya satu yang ada di Wuhan saja tapi ada 350 lainnya yang sudah tersebar di seluruh dunia. Seperti halnya orang menuduh bahwa wabah virus Corona yang ada di Italia berasal dari China. Padahal menurut analisa ahli, itu berasal dari pasien di Munich, ibukota Bavaria. Mengapa? genom Covid 19 yang ada di Italian itu sama dengan virus yang ditemukan pada pasien di Munic jauh sebelumnya atau sekitar Desember 2019. Dicurigai penyebarannya ketika ada acara besar di Munich yang memungkinkan terjadi kerumunan massa seperti acara tablik akbar di Malaysia."

"Tetapi banyak negara tidak seperti China yang sangat teliti terhadap penyakit pasien. Sehingga cepat mengetahui ada wabah virus yang menyerang, semacam coronavirus atau sindrom pernapasan. Andaikan China tidak bereaksi luar biasa, tidak concern terhadap munculnya wabah, mungkin orang tidak akan mengetahui apa itu virus corona. Karena dampak yang ditimbulkan tidak jauh beda dengan penyakit lainnya," tambahnya.

"Mengapa?

"Virus itu hanya merusak sistem pernapasan. Itu sudah ada obatnya dan bisa disembuhkan seperti kasus flu. Kalau imune kita kuat, itu sembuh dengan sendirinya.  Namun dampaknya bisa fatal bila pasien punya penyakit diabetes, jatung atau dalam kondisi imun rendah sekali. Biasanya diumumkan kematiannya bukan karena virus tetapi karena jantung atau infeksi paru atau diabetes."

"Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China. Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide 19 itu memang di create oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin AS. Karena hanya AS satu satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru,” susulnya.

Tapi berita media massa sangat bias,“ kataku.

Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012, tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania kali pertama terkena virus pada bulan april tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan. Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.

"Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?

"Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang phisik tak terelakan. Kini mungkin orang engga mau lagi perang phisik. Karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakteri."

Kalau benar AS yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu AS seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab dan lain lain, termasuk Indonesia?

AS meliat fenomena perang dagang dimana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera, belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang,  investasi Korea dan Jepang yang sangat besar di China, Indonesia dalam kasus laut China selatan yang terkesan tidak berpihak kepada AS. Iran, yang semakin garang dengan AS, dan ancaman bagi agenda AS memecah belas Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.

Untuk apa?

Untuk apa?  Bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jaun lebih menakutkan daripada perang phisik.  Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap Kepala Negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.”

Loh AS juga terancam kepanikan akibat virus corona?

Itu juga bagian dari rangkaian elite AS memaksa publik AS menerima strategi AS dalam memenangkan perang semesta lewat ekonomi dan teknologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang termpur Jepang masuk wilayah AS untuk menghabisis pangkalan perang AS di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar AS masuk dalam perang dunia ketiga.” Katanya berteori.

OK-lah, kan sudah terbukti agenda AS menghancurkan China gagal, terus gimana dengan sekutunya? Kan mereka tidak sekuat Cina menghadapi wabah virus corona?

AS punya solusi di tengah kepanikan itu.

Apa itu?

Tergantung sekutu AS. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska jatuhnya Lehman tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu,  situasi  akan di bawah kendali AS untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia

“Oh I see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda AS. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan

Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan?” katanya cepat.

Saya termenung. Semoga dunia baik baik saja. Diatas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya. Pada akhirnya kita sedang memasuki phase besar, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu akan mencari jalannya walau prosesnya memang pahit.
Kalau ada yang menuduh China membuat senjata biologi itu jelas  tidak masuk akal. Mengapa? Ada tiga alasan. Pertama, China tidak sedang berperang dengan negara mana pun. Kedua. China adalah negara pemberi pinjaman terbesar di dunia. Bukan hanya kepada negara berkembang tetapi juga negara maju seperti AS dan Eropa. Ketiga. Kalau China gunakan senjata biologi, yang rugi dia sendiri. Contoh dengan adanya wabah Coronavirus ini bursa negara di ASIA, Eropa dan AS jatuh. Tentu akan semakin kecil potensi mereka mengembalikan pinjaman ke China. Dan tentu akan semakin mengurangi daya beli mereka atas produk China. Jadi dengan tiga alasan itu sudah cukup untuk paham bahwa tuduhan itu hanya untuk orang yang doyan onani politik dan frustrasi kalah bersaing. Sekarang kita bahas benarkah ada lab biologi di China?

Tahun 2015 China membangun  The Wuhan National Bio-Safety Laboratory  atau Laboratorium Keamanan Hayati Nasional Wuhan, bertempat di Institut Virologi Wuhan. Proyek ini selesai tahun 2017. Lab ini dirancang dengan tingkat keamanan yang tertinggi dengan kriteria BSL-4. Kriteria keamanan ini sangat ketat SOP nya;  menyaring udara dan mengolah air dan limbah sebelum para peneliti meninggalkan laboratorium, dan memastikan bahwa peneliti berganti pakaian dan mandi sebelum dan sesudah menggunakan fasilitas laboratorium. Para peneliti dilengkapi dengan jas hazmat (hazardous material) kedap udara atau ruang kerja 'kabinet' khusus yang  dapat membatasi virus. Secara kontruksi Lab ini anti gempa dan berada pada dataran tinggi yang tidak mungkin dilanda banjir. Lab ini menjadi standar rujukan bagi WHO.

Yang punya Lab semacam ini bukan hanya China, negara maju lain juga punya. Misal Jepang , Iran, German,  AS. Bahkan China termasuk negara yang baru membangun Lab semacam ini. Sementara Jepang sudah membangun Lab ini sejak tahun 1981 dengan standar keamanan rendah. Jadi Lab semacam ini bukan Lab untuk menciptakan senjatan biologi. Ini murni pusat riset ilmu pengetahuan yang meneliti tentang virus-virus paling berbahaya di dunia, termasuk diantaranya virus Ebola dan SARS. Untuk apa virus itu dijadikan objek penelitian? Nah untuk menjawab pertanyaan tersebut baiknya kita pahami dulu apa itu virus.

Virus itu adalah makhluk hidup sama dengan kita. Virus mengandung DNA. Baik DNA tunggal atau beruntai seperti rantai ganda. Bahkan beberapa memiliki RNA dari keduanya. Beberapa virus memiliki informasi genetik yang terorganisir, dari bentuk lurus dan yang lain membentuk melingkar. Yang unik dari Virus adalah dia tidak punya sel. Sehingga dia tidak bisa menggandakan dirinya. Terus bagaimana dia bisa berbiak? dia membutuhkan sel makhluk lain. Untuk apa ? untuk memproduksi energi, reproduksi dan kelangsungan hidup dan berkembang. Jadi Virus itu semacam parasit.

Bagaimana Virus tahu sel yang cocok untuk dia bisa menggandakan dirinya? Virus mengandung genetik yang tidak hanya bisa menentukan jenis sel yang layak mereka tumpangi ( inang sel), tetapi bagaimana mereka melakukan replikasi ke tubuh inang sel. Jadi memang cerdas secara genetik. itulah kehebatan Tuhan menciptakan makhluk. Penuh kasih sayang agar makhluk bisa survival. Nah, kalau dia bersemayam di dalam tubuh kita, dia akan membungkus dirinya  dengan protein atau kapsid atau membran. Dia bisa bertahan puluhan tahun di tubuh kita.

Apakah berbahaya bagi kita ? tentu. Tapi Tuhan bekali tubuh kita dengan imune atau kekebalan terhadap virus. Dan Virus tidak akan keluar dari membrannya selagi imune kita kuat. Namun Ketika imun kita berkurang,  tubuh kita lemah, dia akan bangkit meluaskan koloninya. Saat itulah kita terserang penyakit. Ada juga semacan Virus HIV dia bisa menyamarkan dirinya dari sistem kekebalan tubuh kita. Terus berkembang biak tanpa terdeteksi oleh sistem imune kita. Bisa berdampak sistemik. Ya hukum alam, hukum ekositem. Yang lemah selalu terancam.

Itulah sebabnya manusia yang berakal mencari tahu kehebatan Virus.  Apa itu? virus memiliki kemampuan untuk masuk ke gen dalam kromosom manusia. Nah, kalau manusia bisa mengkloning Virus untuk tujuan terapi gen misal pengobatan kanker atau penyakit yang belum ada obatnya, dengan cara memasukan virus kloning kedalam sel yang terkena kanker atau penyakit. Ini akan jadi prajurit gagah berani dan efektif memangsa sel yang merusak kita, yang pasti akan sangat mengurangi ongkos biaya pengobatan, tentu membuat industri pharmasi gigit bakiak.

Itulah tujuan The Wuhan National Bio-Safety Laboratory  itu didirikan. Virus juga makhluk yang diciptakan Tuhan, yang punya hak hidup sama dengan kita. Tentu ada sebab mengapa Tuhan ciptakan. Karena Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa ada tujuan. Tentu tujuannya untuk kebaikan kita. Tuhan kan "tidak bego" dan orang berakal mengagungkan Tuhan dengan mencari Tahu kasih sayang Tuhan yang tersembunyi itu, dan setelah tahu, rasa syukur dan keimanan semakin kuat, dengan ditandai semakin majunya ilmu pengetahuan. Penyakit dan wabah akan selalu ada, dan karena itu peradaban akan semakin maju karenanya. Kecuali kalau penyakit dikutuki dan Tuhan dianggap tukang azab.


Penulis : Erizeli Jely Bandaro
Editor : El-Hadi

Tidak ada komentar:

Post Top Ad