Artikel Sepak Bola "mBah Coco" : RATU TISHA DESTRIA TERLALU BANYAK BOHONG  - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Rabu, 15 April 2020

Artikel Sepak Bola "mBah Coco" : RATU TISHA DESTRIA TERLALU BANYAK BOHONG 

0 Viewers

Bagi mBah Coco, di republik “mbelgedes” ini, sepak bola banyak penggemar yang terlalu paham, banyak yang super fanatik. Terlalu banyak yang gila bola, terlalu banyak yang seolah-olah mengerti organisasi, dan ada 100 jutaan lebih yang selalu gandrung dengan permainan bola. 

WAJAR, jika ada yang menjadi berita yang gegerkan PSSI, semua media menulis. Dan semua pecinta bola membicarakan. 

 Namun, ketika Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria mengundurkan diri dari gerbong ketum PSSI, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. Seolah-olah, Ratu Tisha dizolimi, dan seolah-olah direndahkan martabatnya. Bahkan, isi surat Ratu Tisha Senin 13 April 2020, seolah-olah juga mencintai bola 1000%. 

Ratu Tisha, lupa, bahwa posisi sekjen itu jabatan seorang profesional, yang ditunjuk oleh Ketua Umum, dan wajib di voting oleh 15 anggota EXCO PSSI, bukan sebagai hak preogratif. 

 Di semua media cetak, media online atau di medsos, tertulis, bahwa Ratu Tisha banyak jasanya. 

Pagi ini, tertulis juga di harian KOMPAS, edisi Rabu, 15 April 2020, apa saja sumbangsih Ratu Tisha dalam jejak di sepak bola nasional, saat duduk sebagai Sekjen PSSI. 

 Banyak penggila bola di republik “plekutus” ini, yang kurang paham, bagaimana pekerjaan seorang Sekjen PSSI? Dan, bagaimana sebuah organisasi PSSI ini bekerja untuk membangun pembinaan berjenjang dan kompetisi lembaga profesional dan amatir. 

 Di KOMPAS disebutkan, jasa Ratu Tisha, untuk urusan Pembinaan Usia Dini, dengan membantu lahirnya Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia), menyelenggarakan program Garuda Select, bagi timnas U-15 untuk berlatih di Inggris dan Italia selama 6 bulan. 

Untuk masalah kompetisi, disebutkan Ratu Tisha juga menyelenggarakan Elite Pro Academy, liga khusus pemain dibawah 19 tahun. Menyelenggarakan Liga 1 Putri, dan menggelar Piala Indonesia 2018. 

Dalam bidang kelembagaan, Ratu Tisha disebutkan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala dunia U-20, tahun 2021. Di sepak bola mana pun di kolong langit, tidak ada menunjuk nama sesorang yang dianggap sukses menjadi sosok paling penting. 

Di FIFA, Sepp Blatter, saat jadi presiden FIFA yang paling hebat, dan punya kekuasaan paling tinggi pun kalah dengan rapat EXCO. Karena, semua diputuskan dalam sebuah rapat besar, yaitu rapat EXCO FIFA, dan juga jajarannya. 

 Di PSSI sama dan sebangun, tidak orang orang paling superior (kecuali jaman Nurdin Halid, yang kemudian juga tumbang), saat memimpin “kursi panas” sepak bola nasional. Sepp Blatter pun juga tumbang, ketika ketahuan “kentit” uang” dan dihukum. 

 Bicara kesuksesan Ratu Tisha yang disebut harian KOMPAS. Siapa yang bilang, Ratu Tisha menjadi pelopor Filanesia? Siapa yang membawa Garuda Select belajar sepak bola di Inggris dan Italia? Siapa yang menentukan Indonesia tuan rumah Piala Dunia? 

 Mbah Coco, hanya mencoba mencari jawaban dari versi yang berbeda. 

Masih ingat, ketika Jokowi bertemu dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino di Bangkok, 2 – 4 November 2019, di sela-sela KTT ASEAN ke-35. Dalam pertemuan tersebut, hanya menegaskan, bahwa sejak 25 Agustus 2018, Indonesia sudah menyetujui dan menandatangani untuk siap menjadi tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2021 di Indonesia. Dan, FIFA setuju, karena pemerintah Jokowi, dan jajaran siap menggelar Piala Dunia. 

Bukan PSSI yang jadi pahlawan, tapi negara, bro !!! 

 Artinya, atas nama bangsa dan negara Indonesia, yang memiliki hak dipilih dan terpilih. Bukan PSSI. 

Dan, saat Indonesia ditunjuk FIFA itu, saat Edy Rahmayadi yang menjadi Ketua Umum PSSI. Juga, yang bekerja agar bidding (permintaan menjadi tuan rumah, juga bukan Ratu Tisha), melainkan Joko Driyono, selaku Wakil Ketua Umum PSSI, dan juga Wakil Presiden AFF (Federasi sepak bola Asia). 

 Saat PSSI melakukan kerjasama dengan PT Djarum, dengan melahirkan Garuda Select yang juga melahirkan MolaTV. Di mana tujuan utamanya, membangun pembinaan usia dini U-15, agar dalam enam bulan sekali, bisa belajar sepak bola moderen di Inggris dan Italia. 

Maka, dari hasil investigasi mBah Coco, bukan karena Ratu Tisha yang punya pekerjaan. Melainkan, Marsal Masita, Deputi Sekjen Bidang Marketing PSSI.

 Itu pun gagasan awal dari Joko Driyono, sebagai Wakil Ketua Umum PSSI. 

 Kelebihan Ratu Tisha hanya satu. Versi mBah Coco. yaitu, diuntungkan, saat Edy Rahmayadi mengundurkan dari Ketua Umum PSSI, menjelang Kongres PSSI di Bali, 20 Januari 2019, atau empat hari sebelum Kongres PSSI di Bali, 24 Januari 2020. 

Dan, saat penggantinya, Joko Driyono dijadikan tersangka, 15 Februari, akibat perusakan barang bukti kasus pengaturan skor, olah Satgas Antimafia Bola jilid 1. 

 Kalau Ratu Tisha dianggap hebat, karena menjadi Sekjen PSSI pertama. mBah Coco coba bertanya. Hebat mana, Ratu Tisha dengan Herlina Kasim, pejuang Trikora, pembebasan Irian Barat, yang dapat julukan “Pending Emas”, sekaligus pemilik klub Capriba Bali (Galatama)? 

Jawabnya, pasti pilih Herlina Kamis. 

Tapi, mengapa Caprina dibubarkan? Ya, karena Herlina Kasim tersangkut kasus suap menyuap pertandingan di kompetisi Galatama.  
Pergumulan organisasi PSSI semakin semrawut, akibat kehilangan pemimpinnya. 

Iwan Budianto, sebagai orang terakhir, sebagai Wakil Ketua, dan kemudian disodorkan sebagai Ketua Umum PSSI, pengganti Edy Rahmayadi dan kemudian Joko Driyono, versi mBah Coco, bukan organisatoris. 

Di PSSI tidak ada pejabat Plt (sementara). 

Aturannya, jika ketua umum berhalangan, penggantinya adalah wakil tertua, saat itu Wakil Ketua Umum PSSI, ada dua, yaitu Joko Driyono (tertua) dan Iwan Budianto (termuda).  
Jadi wajar, jika Iwan Budianto yang tidak paham organisasi sepak bola moderen, memberi peran kepada Sekjen PSSI, Ratu Tisha. 

Namun, siapa yang bisa mengontrol Ratu Tisha, hingga menggantikan posisi Joko Driyono, sebagai Wakil Presiden AFF 2016 – 2020? Dan, menunjuk dirinya sendiri, menggantikan Joko Driyono. Padahal, dalam aturan FIFA atau AFC, sebelum Joko Driyono diputuskan secara resmi, dan belum diputuskan hukumannya. 

Maka, posisi Joko Driyono sebagai Wakil Presiden AFC, tidak bisa digantikan. 

Namun, ternyata Ratu Tisha sendiri yang memutuskan dirinya, menggantikan Joko Driyono. 

Begitu pula, posisi Joko Driyono, anggota Komite Kompetisi AFC, juga diambil alih Ratu Tisha. 

 Bagi mBah Coco, jika Ratu Tisha itu cerdas. Seharusnya, justru orang nomor satu di organisasi PSSI, yang berinisiatif menerjemahkan, apa yang harus dilakoni PSSI, saat menerima “berlian’, yang bernama Inpres No 3, yang dikeluarkan Presiden jokowi, 27 Janauari 2019. 

 Mengapa? 

Karena, pengurus PSSI jaman Edy Rahmayadi, dan kemudian nongol pasukan Iwan Bule dan kawan, tidak paham apa isi dari perintah Inpres No 3 itu. 

Padahal, Jokowi membuat Inpres No 3 itu, sama dengan memberi kail dan umpannya. 

Begitu nikmatnya sepak bola Indonesia, dapat hadiah dan berkah. 

 Nyatanya, Ratu Tisha, yang harusnya menguasai manajemen dan administrasi, harus membuat program yang dimaksud dengan Inpres No 3 tersebut, ternyata tidak memiliki misi dan visinya dalam menerjemahkan kepada pengurus PSSI, yang sejatinya tidak paham dunia dan seluk beluk sepak bola nasional.

Prinsipnya, posisi Sekjen organisasi, khususnya di PSSI, semuanya tergantung rezim yang berkuasa.

 Ketika Ratu Tisha dianggap berbahaya oleh kepengurusan baru, dari Edy Rahmayadi, Joko Driyono, Iwan Budianto sebagai Ketua Umum PSSI, digantikan oleh Iwan Bule, saat menjadi pemenang dalam Kongres Luar Biasa PSSI, 2 November 2019 di Hotel Shangrilla, Jakarta, maka, otomatis Iwan Bule butuh gerbong yang dipercaya. 

 Terbukti, Iwan Bule membentuk struktur organisasi PSSI periode 2019 – 2023, adanya posisi Wakil Sekjen PSSI, yang dihuni saudara iparnya, Maaike Ira Puspita. 

Di jaman Edy Rahmayadi, hanya ada sekjen PSSI, Ratu Tisha, dan dibantu dua deputi. Deputi Timnas dikelola, Marco Garcia Paulo, dan Deputi Marketing PSSI, Marsal Masita. 

Namun, sejak Iwan Bule mengendalikan PSSI, struktur kesekjenan diubah, ada Wakil Sekjen. 

Pertanyaannya, mengapa diubah?

 Dalam sebuah organisasi, setiap pemimpin, punya gaya, punya misi dan visi, dan punya banyak mimpi.

 Iwan Bule, yang tidak paham sepak bola, dan tidak mengerti seluk beluk sepak bola nasional (maklum, hobinya cuman renang), pasti punya ambisi. 

 Gaya dan karakter Ratu Tisha, sebagai “wanita besi”, sepertinya tidak cocok dengan karakter polisi, yang selalu ingin mengatur saat belajar dan dididik sebagai kultur polisi. 

Ratu Tisha, hobinya mendikte lawan bicara, lawan diskusi dan lawan debatnya. Maklum, gelar S-2-nya adalah soal organisasi sepak bola FIFA. 

 Dalam organisasi PSSI, tidak mungkin Ratu Tisha selamanya mendikte Iwan Bule, atau pun dua wakilnya Cucu Somantri dan Iwan Budianto. 

Dan, ini yang membuat Iwan Bule, lebih percaya kepada orang-orang di sekitarnya, ketimbang orang profesional. 

 Terbukti, sejak awal, Maaike Ira Puspita, sudah dicemplungi sebagai wakil sekjen. Ini jelas, Iwan Bule punya skenario sendiri, untuk memimpin “kursi panas” ini. 

 Intinya!

PSSI itu bukan satu orang, bukan juga dipimpin oleh pimpinan yang berkarakter otoriter. 

Selama politik organisasi sepak bola, dikelola dengan cara-cara otoriter, jangan sekali-kali bicara prestasi. 

Karena, itu hanya ilusi atau fatamorgana di siang bolong. 

 Jadi, kalau Iwan Bule, ingin ambil alih pekerjaan Ratu Tisha, dengan menggantikan saudara iparnya. Siap-siap saja kecemplung di sungai yang keruh dan bau amis. 

 Saran mBah Coco, untuk posisi sekjen PSSI itu, sulit banget. 

Yang utama, bahasa Inggrisnya cas-cis-cus-ces-cos, pengetahuan organisasi manajerial dan administrasi sepak bola di bawah FIFA sudah diluar kepala. Sangat paham politik sepak bola di Indonesia, yang mudah jadi “pelacur” murahan. 

Dan, yang terakhir bisa bekerja 24 jam.

 Bayangkan saja, jika sekjen PSSI di telepon salah satu utusan dari CONMEBOL organisasi sepak bola Amerika Selatan, pukul 4 sore waktu sana. Artinya, waktu Indonesia, pukul 4 waktu pagi Indonesia. Bayangkan, jika Sekjen FIFA ingin menghungi salah satu anggota utusan FIFA di markas Zurich, pukul 10 pagi waktu Jakarta, ternyata di Swiss, masih pukul 4 pagi dini hari.

Penulis : Erwiantoro (nama asli mBah Cocomeo), Wartawan Senior Sepak Bola.j

Tidak ada komentar:

Post Top Ad