Melenggangnya Cafe 'Four Club' Penyedia Oplosan, Disinyalir Tak Lepas dari Strategi Oknum - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Selasa, 08 Oktober 2019

Melenggangnya Cafe 'Four Club' Penyedia Oplosan, Disinyalir Tak Lepas dari Strategi Oknum

0 Viewers
Ist

Berita Rakyat, Surabaya - 
Penertiban besar-besaran diberbagai tempat di Surabaya yang berbau minuman keras (Miras) Oplosan dari tahun 2014 lalu oleh penegak Perda (Satpol PP) dan aparat penegak hukum Surabaya, membuat kalang kabut dan mati kutu para bandar maupun kurir 'banyu setan' alias miras oplosan yang kerab kali memakan korban jiwa.

Namun disisi lain, hal tersebut malah dimanfaatkan oleh para bandar miras oplosan untuk mempersempit ruang bersaing dan merapikan alur permainan dalam dunia bisnisnya agar bisa melebarkan di wilayah yang cukup strategis dengan hasil yang sangat menjanjikan, seperti disekitar pemukiman padat penduduk dan menggunakan jasa preman yang diperbantukan di lapangan.

Salah satunya Cafe Four Club, dikemas semi Discotique sebagai pemikat muda mudi yang masih bau kencur (bawah umur) agar lebih betah mengunjungi cafe 'air setan' tersebut.

Cafe Four Club sudah dua tahun beroperasi di Jalan Dupak 20, Surabaya, sampai saat ini tidak satupun warga berani mengadu keberadaan serta aktifitasnya yang meresahkan.

Seperti yang disampaikan Rifai Sulung, mantan koordinator miras oplosan area Kedungdoro, bahwa bisnis miras oplosan sangat dibutuhkan preman kampung, karena meraka bisa dapat hasil yang menjanjikan, juga demikian bagi pemiliknya modal awalnya besar karena tempatnya di ruko atau didalam ruangan bukan di Lesehan pinggir jalan lagi, dimana tidak sulit memikat pengunjung anak dibawah umur.

"Jasa preman sekitar diutamakan mengamankan lokasi dari berbagai sorotan dan protes masyarakat. Cukup tempat dibikin semi discotique, disediakan minuman murah meriah (miras oplosan) dan cewek-cewek yang berpengalaman di dunia maksiat serta siap pakai sudah pasti bisnis ini jalan," ungkap Sulung.

Lanjut Sulung, untuk harga satu porsi (picer) minuman di dalam Cafe Four Club  dibandrol Rp 150 ribu. Pengoplosannya yakni bibit alkohol dicampur dengan beberapa minuman ringan yang mudah didapat di toko modern dengan harga murah meriah.

"Bibit alkohol khusus dicampur dengan minuman ringan seperti sprite, Coca-Cola, fanta atau sejenisnya. Cafe Four Club setiap malam bisa menghabiskan minimal 200 picer, itu dihari biasa, beda lagi pada hari besar dan libur bisa sampai 500 hingga 700 picer, tinggal hitung saja omset berapa Cafe Four Club perhari (Rp 200 x Rp 150.000 = Rp 30 jt), belum termasuk hasil dari Perempuannya?. Dengan omset sebesar itu diduga penegak perda dan hukum di Surabaya sudah lancar upetinya sehingga tidak perlu menindak," tegas Sulung.

Menurut informasi yang didapat tim investigasi, Cafe Four Club bukan satu-satunya yang menyediakan miras oplosan di kota Pahlawan bagi kaum muda mudi. Cafe Four Club adalah salah satu bagian dari reinkarnasi cafe Alexis di Jalan Tegal Sari, Surabaya, yang sudah di tutup karena hampir setiap malam minggu memakan korban.

Jaringan mereka sudah mengakar dan bukan pendatang baru di dunia maksiat. kenapa penegak perda dan hukum tidak berani menindak tegas, diduga kuat mereka juga kebagian jatah harian, mingguan bahkan bulanan, sehingga sangat dikhawatirkan masyarakat, oknum penegak hukumlah yang disinyalir sebagai pemain utama dari tempat oplosan tersebut.



Penulis : Tim

Tidak ada komentar:

Post Top Ad