Kamis, 03 Oktober 2019

Menghadapi Anak Yang Salah Pergaulan

Bagikan Berita ini:

3  October 2019.
NAUMI SUPRIADI KORNAS TRC PA

Berita Rakyat Indonesia - Makin hari, anak yang berjalan di jalanan makin marak. Tidak jarang mereka berasal dari keluarga mapan, kecukupan materi dan kasih sayang.  Persoalan yang menjadi latar balakang dan motivasi mereka untuk berjalan beragam, tidak mudah untuk mengatakan kemiskinan, kurang kasih sayang, keluarga broken, atau apapun itu. 

Jiwa remaja yang sedang mencari jati diri ikut memicu perilaku ini. Kebebasan sebebas-bebasnya menjadi pedoman, bebas dari kewajiban misalnya sekolah, belajar agama atau mengaji, membantu orang tua, main sepuasnya, menjadi pandangan yang menggiurkan remaja labil ini. Labil dalam arti yang sesungguhnya.

Persoalan adalah stigma negatif yang akan mengikuti komunitas ini. Bagaimana tidak ketika mereka dengan pakaian yang terbatas, kebersihan badan minimal, berjalan kian kemari dan tidur di sembarang tempat. 

Kecurigaan tidak akan bisa disalahkan kalau demi menunjang kehidupannya mereka melakukan aksi kekerasan dalam mengamen, kalau tidak tindak kriminal lainnya. Berbahaya sekali kalau mereka sudah direkrut atau dikuasai oleh jaringan pengedar narkoba. 

Pergaulan bebas, karena usia puber ada anak laki-laki dan perempuan sepanjang hari tanpa pengawasan, sangat mungkin terjadi, dengan gonta ganti pasangan. Ngelem, merokok, tatoo, bukan masalah tatoonya. Namun kesehatan alat untuk membuat karya itu sangat riskan, kita tidak menyorot tatoo dari agama, namun kesehatan mereka yang sangat berbahaya. Paparan angin malam, hujan, panas secara langsung, pola makan dan hidup yang tidak beraturan.

Mengembangkan hobi dan bakat bisa terjadi memang. Hobi menyanyi dan memainkan alat musik sehingga mampu membuat grup band atau vokal grup bukan tidak mungkin.


Kepemimpinan, "saya pernah membina pelatihan LKTD OSIS,  anak jalanan yang kembali, menjadi ketua OSIS yang berkualitas. Jalanan menempanya menjadi pemimpin yang peduli, kritis, dan  betanggung jawab," ujarnya Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak.

Sikap solider dan toleran. Perasaan sama-sama di jalan membentuk mereka pribadi yang mau berbagi, mau melindungi, dan merasakan derita sesamanya. Perasaan sama dalam pilihan membawa mereka saling peduli dan membantu satu sama lain.

Bunda Naumi juga memberi pengetahuan dan pengalaman kepada rakyat Indonesia dan generasi bangsa. Coba di perhatikan bagi orang tua atau siapa saja ketika menghadapi keadaan demikian:

1.Anak ingin bebas sesuai dengan usianya, ajaklah dia untuk berdoa, apapun agamanya dan agama Anda, doa akan sampai kepada Yang Esa.

2.Mengerti bukan menghakimi, ajak bicara dari hati ke hati agar tidak merasa terintimidasi dan disalahkan terus menerus. 

3.Buka komunikasi, kalau tidak bisa dan mentok, libatkan orang yang dia percaya dan dekat untuk mencairkan keadaan.

4.Kekerasan bukan jawaban. Anak akan makin meradang dan makin jauh dari jangkauan. Pukulan dan hukuman fisik sangat berisiko bagi anak-anak demikian.

5.Tegas bukan berarti keras. Katakan dengan tegas pilihan-pilihan dengan konsekuensi logisnya. Pembicaraan dari hati ke hati, bukan emosi.

6.Ada hikmat di balik semua peristiwa, ajak kenali potensi dan kembangkan itu.

7.Berfiir positif untuk membantu semua pihak, termasuk pihak orang tua. Orang tua tidak menyalahkan diri sendiri apalagi anak. Kalau memang komunitas tersebut banyak tetangga sekitar ajak untuk bersama-sama mengawasi, pengawasan bukan kontrol seperti satpam atau polisi yang penuh curiga.

8.Mendidik itu seni, tidak semua hal bisa diterapkan dengan baik pada kondisi dan anak yang berbeda. Diskusi dan membaca bisa banyak membantu.

9.Semua ada jalan dan masalah membawa solusinya sendiri, jangan takut kalau anak Anda salah jalan dan berlaku demikian.

Potensi mereka jangan tersia-siakan oleh sikap malu, abai, atau acuh tak acuh dari keluarga, kerabat, atau masyarakat secara umum. Pencarian mereka perlu dukungan dan pendampingan.

Salam Damai Untuk Bangsa Indonesia

Bagikan Berita ini:


Facebook Comment

0 komentar: