Kamis, 14 Maret 2019

SMK Pawiyatan Surabaya 'Larang' Siswa Ikut Ujian, Begini Ceritanya

Bagikan Berita ini:

Berita Rakyat, Surabaya - Aksi intimidasi yang dilakukan seorang oknum guru terhadap muridnya terjadi di Surabaya. Intimidasi itu muncul karena sang murid belum membayar SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan). Bahkan, sang murid diancam bakal tidak naik kelas.

Peristiwa ini terjadi di SMK Pawiyatan Surabaya. Sang oknum guru diketahui berinisial RL. Sedangkan murid yang menjadi korban intimidasi bernama Alda Ladysta, warga Jalan Tangkis Turi, Simomulyo, Sukomanunggal, Surabaya. Alda merupakan siswi yang duduk dibangku kelas X.

Widiati, orangtua Alda mengatakan jika akibat dari aksi intimidasi itu, anaknya pun mengalami syok (tertekan) dan enggan bersekolah lagi. Ia yang mendengar keluhan dari anaknya, lantas tidak terima dan langsung mendatangi sekolahan tersebut.

Ia kesana (SMK Pawiyatan) untuk menanyakan perihal perlakuan yang diterima anaknya. Terlebih perkataan yang kurang tepat dilontarkan oleh seorang guru yang diucapkan di ruang kelas atau di depan siswa yang lain.

"Saya dapat cerita dari anak saya kalau dia tidak ikut ujian karena belum bayar uang SPP. Bahkan salah satu guru mengancam kalau anak saya tidak akan naik kelas," jelas Widiati, Rabu (13/3).

Ia juga mengatakan bahwa hingga saat ini anaknya tidak mau ikut ujian dan takut akibat dari perkataan guru tersebut.
Widiati pun berharap agar kejadian itu tak terulang lagi, karena ini bisa mempengaruhi psikologis siswa. Terlebih ke depan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa akan menggratiskan SPP bagi siswa SMA/SMK.

Sementara itu, Kepala SMK Pawiyatan Surabaya, Hasyim membenarkan adanya masalah tersebut. Dalihnya, waktu itu sebelum mengikuti ujian semua siswa dikumpulkan agar yang belum membayar SPP pada bulan Maret segera menghubungi orang tuanya hari itu juga.

Hal tersebut dilakukan karena pihak sekolah khawatir siswanya tidak membayarkan uang SPP ke sekolah setelah diberi uang oleh orang tuanya.

"Para siswa yang belum melunasi SPP agar memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah, bertujuan untuk bermusyawarah agar bisa ikut ujian," kata Hasyim saat dikonfirmasi.

Hasyim menyatakan pihaknya sebenarnya tidak melarang siswa mengikuti ujian."Apabila ndak bawa uang, tetap kami masukkan (mengikuti ujian). Pokoknya ada orangtua datang," bebernya.

Dia menegaskan lagi bahwa pihaknya hanya khawatir uang SPP yang sudah diberikan kepada siswa oleh orangtuanya, tapi belum dibayarkan.

Terkait salah satu oknum guru yang mengatakan bahwa Alda tidak bisa naik kelas, itu juga dibenarkan Hasyim. Namun, ia sangat menyayangkan perilaku seorang oknum guru tersebut dan sudah sangat keterlaluan.

"Yang bisa meluluskan bukan guru tersebut. Namun karena rapat dewan guru, dan tentunya tidak perorangan," pungkasnya.

Hasyim pun berjanji akan bersikap tegas pada oknum guru yang dinilai telah mengancam siswanya tak naik kelas tersebut.

Penulis : Rizky Hari Setyawan
Editor : Hary

Bagikan Berita ini:


Facebook Comment