Sabtu, 02 Maret 2019

Ketua DPC Pospera : Sebagai Anggota Dewan Terhormat, Sejatinya Muhammad Syafi'i Berbahasa Santun dan Berbobot

Bagikan Berita ini:
Ketua DPC Pos Perjuangan Rakyat (POSPERA) Deliserang, Jepta Panjaitan, ST.

Berita Rakyat, Medan - Pernyataan Muhammad Syafi'i dalam orasinya saat aksi damai Aliansi Umat Islam Bersatu di depan kantor walikota Medan, oleh sebagian orang dinilai sangat tidak berdasar dan berbau politis, Jumat (1/3/2019).

Bahkan beberapa elemen masyarakat Kota Medan juga sangat menyayangkan dan menyesalkan pernyataan sepihak Anggota Komisi III DPR RI tersebut. Sebagai anggota dewan terhormat yang membidangi hukum, seyogyanya Muhammad Syafi'i yang akrab disapa 'Romo' itu harus menunjukan etikanya dalam berbahasa menyampaikan pernyataan dihadapan masyarakat ataupun publik.

"Sebagai anggota dewan terhormat, seharusnya Muhammad Syafi'i berbahasa santun dan membangun dalam menyampaikan pernyataan di muka umum. Ini kok malah sebaliknya, bahasa yang disampaikanya bersifat provokator dan menebar kebencian yang ditujukan kepada seseorang yang notabene memiliki tugas memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat Sumatera Utara, khususnya Kota Medan," ujar Emi. 

Selanjutnya, agar tidak mengganggu konsentrasi kapolda jelang pengamanan Pilpres dan Pileg pada 17 April 2019  mendatang, Muhammad Syafi'i harus menyampaikan permohonan maaf kepada Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, pinta beberpa warga. 

Menanggapi pernyataan Muhammad Syafi'i alias Romo, Ketua DPC Pos Perjuangan Rakyat (POSPERA) Deliserang, Jepta Panjaitan, ST, mengatakan, apa yang disampaikan oleh Muhammad Syafi'i tersebut sangatlah tidak pantas, apalagi jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang sudah di depan mata. 

Sebagai anggota Komisi III DPR RI sejatinya Muhammad Syafi'i harus memberikan pernyataan yang membawa perdamaian dan menyejukkan hati masyarakat Sumatera Utara. Sehingga masyarakat tidak membentuk opini negatif dibalik pernyataanya yang akan merekomendasikan pencopotan Kapoldasu ke Komisi III DPR RI.

"Buka mata pasang telinga dong, suhu politik jelang Pilpres 2019 ini kan semakin panas. Jadi jangan memperkeruh suasana demi mencari panggung politik. Sebagai orang yang memiliki basik ilmu agama, seyogyanya beliau berbahasa yang santun. Ini malah berbahasa sumbang dan tak berbobot. Kita khawatirkan masyarakat akan membentuk opini negatif terhadap beliau yang jelas-jelas kader Partai Gerindra," kata Jepta. 

Lanjut Jepta, sejak Kapolda Sumut dijabat oleh Irjen Pol Agus Andrianto, tingkat kejahatan di Kota Medan menurun drastis, salah satunya penjahat jalanan dan aksi begal secara perlahan ditumpas habis. Kerjasama serta dukungan kepada Pemerintah dalam hal meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), hingga menjalin hubungan yang baik kepada masyarakat, para tokoh dan pemuka agama di Sumut dilakoni sudah Irjen Pol Agus Andrianto.

"Sepantasnya Kapolda diberikan apresiasi, karena beliau memiliki komitmen dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI. Begitu juga halnya dalam mendukung Pemerintah membangun Sumut, dan Irjen Pol Agus juga terlihat aktif dalam menjalin hubungan yang baik terhadap para tokoh dan pemuka agama," jelasnya. 

Sementara itu, menanggapi pernyataan Muhammad Syafi'i tersebut, Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto malah terkesan santai, dan menyatakan bahwa apa yang dijalankannya selama ini hanyalah tersebut semata amanah yang dipercayakan kepadanya. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 

Menurut Agus, kepentingan satu kelompok ataupun perorangan tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat banyak, apalagi demi kepentingan negara. Sebagai Kapoldasu, saya bertanggungjawab menetralisir segala macam paham dan ujaran kebencian, serta arogansi merasa paling benar yang saat ini tengah meracuni sebagian masyarakat Sumatera Utara.

"Negara harus hadir dan tidak boleh abai terhadap  segalq ancaman yang bertujuan merongrong keutuhan rakyat dalam berbangsa dan bernegara. Termasuk ancaman terhaadp agama," tegas Agus. 

Lanjut Agus, sebagai orang nomor satu di Kepolisian Sumatera Utara, saya memiliki tanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban. Dan itu jauh lebih penting daripada Retorika Politik yang sifatnya memprovokasi, fitnah dan menebar kebencian yang dapat memecah belah. 

"Saat ini banyak orang yang merasa benar sendiri, suka mengekspolitasi agama demi kepentingan pribadi ataupun golongan yang dampaknya bisa merusak persatuan dan kesatuan hidup berbangsa dan bernegara dalam rangka satu kesatuan Republik Indonesia," ungkap Jenderal bintang dua yang dikenal akrab dengan para awak media tersebut.

Penulis : Sofar Panjaitan
Editor : Hary

Bagikan Berita ini:


Facebook Comment