Selasa, 05 Maret 2019

Diprediksi Membludak, Pemkab Banjar Siapkan Penginapan Gratis Bagi Jamaah Haul

Bagikan Berita ini:
Ist.
Berita Rakyat, Martapura (Kalsel)- Pelaksanaan Haul Akbar Ke-14 Kiai Haji Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani atau yang lebih akrab disapa Abah Guru Sekumpul, salah satu Ulama Kharismatik asal Kota Serambi Mekah Kota Martapura Kabupaten Banjar, pada Tanggal 9 dan 10 Maret 2019 nanti, diprediksi bakal membludak dihadiri jamaah yang datang dari berbagai penjuru daerah, baik lokal, domestic hingga mancanegara.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, berencana akan mendirikan 3 posko yang tersebar di 3 titik lokasi untuk membantu panitia pelaksana haul dalam menyambut jamaah yang datang untuk mengikuti kegiatan haul.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, Aidi Hikmatullah mengungkapkan bakal mendirikan 3 posko di 3 titik dengan fungsi yang berbeda untuk membantu kelancaran pelaksanaan haul serta kenyamanan jamaah haul yang datang.

“ada 3 posko yang akan kita siapkan yaitu di bandara syamsudinnoor banjarbaru, di kantor dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten banjar, dan satu posko lagi di jalan sekumpul martapura,” ungkapnya.

Dijelaskannya, posko pertama yang ada di Bandara Syamsudinnoor Banjarbaru nantinya berfungsi untuk mendata para jamaah yang datang dari luar Kalimantan Selatan, serta memberikan informasi lokasi penginapan yang akan dituju atau penginapan yang masih tersedia termasuk penginapan gratis.

Kemudian, untuk posko kedua merupakan penginapan gratis untuk menampung jamaah yang datang dari luar daerah dan tidak kebagian penginapan, tempatnya di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar.

Posko ketiga berada di Jalan Sekumpul Martapura tidak jauh dari lokasi kegiatan acara haul berfungsi sebagai tempat informasi dan membantu keamanan selama pelaksanaan haul berlangsung.

“posko di bandara sudah dari tahun lalu kita jalankan dan ternyata sangat membantu jamaah dari luar daerah. Dan untuk penginapan gratis di kantor dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten banjar sedikitnya bisa menampung 100 jamaah,” bebernya.

Rencananya, lanjut Aidi posko dan penginapan gratis akan mulai di buka pada H-2 pelaksanaan Haul atau Tanggal 7 Maret 2019 nanti.

Selain kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjar, kantor milik pemerintah daerah setempat lainnya juga dijadikan sebagai penginapan gratis dan dapur umum, seperti kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banjar, dan beberapa kantor lainnya.

Kiai Haji Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul merupakan Ulama Kharismatik asal dari daerah yang berjuluk Kota Serambi Mekah, Kota Martapura Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

Abah Guru Sekumpul Lahir pada Tanggal 11 Februari 1942 atau 27 Muharram 1361 Hijriah di Desa Tunggul Irang Seberang Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Abah Guru wafat pada usia 63 tahun tepatnya Tanggal 10 Agustus 2005.

Kabar wafatnya Abah Guru Sekumpul sempat menggemparkan umat muslim yang bukan hanya di Kota Martapura, namun juga tersiar hingga ke mancanegara. Bahkan, prosesi pemakaman Abah Guru Sekumpul di alkah lingkungan Langgar Ar-Raudah mengundang  kedatangan tidak sedikit umat muslim dari berbagai pelosok daerah di Indonesia yang ingin mengantarkan jenazah Abah Guru Sekumpul menuju rumah abadi.

Semasa hidupnya, Abah Guru Sekumpul diasuh oleh kedua orang tuanya haji Abdul Ghani dan Hajjah Masliah Binti Mulya serta neneknya yang bernama Salbiyah. Abah Guru Sekumpul memiliki nama semasa kecil Qusyairi oleh kedua orang tuanya dididik akhlak, kedisiplinan serta pendidikan tauhid dan pendidikan Al-Qur’an.

Diusianya yang baru beranjak 7 tahun, Abah Guru Sekumpul kecil menimba ilmu di Sekolah Madrasah di Kampung Keraton, Martapura. Kemudian, Sejak usianya 10 tahun dikaruniai kassyaf hissi, yakni mampu melihat dan mendengar apa-apa yang tersembunyi atau hal-hal ghaib. Dan usia 14 tahun dikaruniai futuh (pencerahan spiritual) saat membaca sebuah tafsir Qur’an.

Diusia remajanya, Abah Guru Sekumpul menghabiskan waktu menimba ilmu hingga ke Pesantren Datu Kalampian Bangil, Jawa Timur. Selain itu berguru kepada Syekh Falah di Bogor. 

Ia juga mendalami syariat dan tarekat kepada Syekh Muhammad Yasin Padang di Mekah, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Isma’il Yamani, Syekh Abdul Qadir al-Baar, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutby, Allamah Ali Junaidi (Berau) ibn Jamaluddin ibn Muhammad Arsyad. 

Atas petunjuk Syekh Ali Junaidi, beliau kemudian belajar kepada Syekh Fadhil Muhammad (Guru Gadung). Kepada Guru Gadung, Guru Ijai belajar tentang ajaran Nur Muhammad. Lebih lagi, Abah Guru Sekumpul juga mendapat ijazah Maulid Simthud Durar dari sahabat karibnya, Habib Anis ibn Alwi ibn Ali al-Habsyi dari Solo, Jawa Tengah.

Abah Guru Sekumpul sempat mengajar di Pesantren Darussalam Martapura selama 5 tahun. Kemudian membuka pengajian di rumahnya sendiri pada 1970-an, didampingi kyai terkenal yakni Guru Salman Bujang (Guru Salman Mulya). Pada Tahun 1988 pindah ke Kampung Sekumpul, membuka komplek perumahan ar-Raudhah atau Dalam Regol.

Sejak itulah kewibawaan dan kharismanya memancar luas dan banyak tamu berdatangan, bahkan dari Malaysia, Singapura dan Brunei. Sebagian datang untuk berguru, sebagian mencari berkahnya, dan sebagian ingin berbaiat Tarekat Samaniyyah. Beberapa tokoh nasional juga pernah mengunjungi Guru Sekumpul di antaranya Amien Rais, Gus Dur, KH AA Gym dan tokoh lainnya.

Sejak kecil, Guru Sekumpul sudah memperlihatkan sifat mulia. penyabar, ridha, pemurah, dan kasih sayang terhadap siapa saja. Kasih sayang yang ditanamkan ayahnya telah membuatnya berhati lembut, penyayang dan pemurah kepada semua orang.

Sebagai ulama, Abah Guru Sekumpul dikenal sebagai orang yang lembut, kasih sayang, sabar, dermawan dan tekun. Apapun yang terjadi terhadap dirinya, beliau tak pernah mengeluh. Bahkan pernah beliau dipukuli oleh orang-orang yang dengki kepadanya, namun beliau tidak mengeluh atau menaruh dendam sama sekali. 

abah Guru Sekumpul juga mengajarkan agar orang senantiasa mencintai dan hormat kepada ulama yang baik dan saleh. Tak heran apabila saat pengajian, tidak kurang dari 3.000 orang datang ke pengajiannya dan selalu diberi jamuan makan. Kedermawanan Guru Sekumpul ini tampak bukan hanya kepada lingkungan sekitar, tetapi juga ke setiap tempat yang disinggahinya. 

Salah satu pesannya adalah “jangan bakhil” karena itu adalah sifat tercela. Salah satu keunikannya dalam berdakwah adalah perhatiannya kepada kesehatan umat. Pada waktu tertentu beliau mendatangkan dokter spesialis (jantung, ginjal, paru, mata, dan sebagainya) untuk memberikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai. 

Beberapa kisah karomahnya di antaranya saat masih di Kampung Keraton, Abah Guru Sekumpul biasanya duduk dengan beberapa orang sambil bercerita tentang orang-orang terdahulu untuk mengambil pelajaran dari kisah itu. Suatu saat Abah Guru Sekumpul bercerita tentang buah rambutan, yang saat itu belum musimnya. 

Tiba-tiba Abah Guru Sekumpul mengacungkan tangannya ke belakang, seolah-olah mengambil sesuatu, dan mendadak di tangannya sudah memegang buah rambutan matang, yang kemudian dimakan. Abah Guru Sekumpul juga bisa memperbanyak makanan setelah makan sepiring sampai habis, tiba-tiba makanan di piring itu penuh lagi, seakan-akan tak dimakan olehnya.

Kisah lain, suatu ketika terjadi musim kemarau panjang, dan sumur-sumur mengering. Masyarakat pun meminta Guru Ijai agar berdoa meminta hujan. Abah Guru Sekumpul kemudian mendekati sebatang pohon pisang, menggoyang-goyangkan pohon itu dan tak lama kemudian hujan pun turun. 

Kelebihan lain yang dimiliki Guru Sekumpul adalah hafal Al-Qur’an sejak berusia 7 tahun. Kemudian hafal tafsir Jalalain pada usia 9 tahun. 

Dalam usia kurang lebih 10 tahun, sudah mendapat khususiat (anugerah) berupa Kasyaf Hissi yaitu melihat dan mendengar apa yang ada di dalam atau yang terdinding. Pada usia 9 tahun pas malam Jumat, Guru Sekumpul pernah bermimpi melihat sebuah kapal besar turun dari langit.

Di depan pintu kapal berdiri seorang penjaga dengan jubah putih dan di gaun pintu masuk kapal tertulis “Sapinah al-Auliya”. Abah Guru Sekumpul ingin masuk, tapi dihalau oleh penjaga hingga tersungkur. Dia pun terbangun. Pada malam Jum’at berikutnya, ia kembali bermimpi hal serupa. 

Pada malam Jumat ketiga, ia kembali bermimpi serupa. Tapi kali ini Abah Guru Sekumpul dipersilahkan masuk dan disambut oleh salah seorang Syekh. Ketika sudah masuk ia melihat masih banyak kursi yang kosong.

Saat Guru Sekumpul merantau ke Jawa untuk mencari ilmu, tak disangka orang yang pertama kali menyambutnya dan menjadi gurunya adalah orang yang menyambutnya dalam mimpi tersebut.

Adapun sebagian karomah Abah Guru Sekumpul diambil dari Manakib Risalah Riwayat KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni Albanjari yang disusun Guru H Muhammad Hudhari. Guru Hudhari menceritakan bahwa Abah Guru Sekumpul sewaktu kecil pernah bermimpi bertemu Sayidina Hasan dan Sayidina Husin, cucunya Rasulullah SAW yang keduanya membawakan pakaian jubah dan memasangkan kepadanya lengkap dengan surban. 

Kemudian keduanya memberikan nama Zainal Abidin. Setelah bangun, beliau menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Kemudian ayahnya menganti nama beliau yang dulunya Qusyairi menjadi Muhammad Zaini. 

Kisah lain, suatu hari Abah Guru Sekumpul berburu burung. Ketika sampai di Padang Karang ia mendengar suara dzikir “Laa ilaha illallah”. Spontan ia pun berjalan naik ke Kampung Karang Tengah mencari asal suara itu. Ternyata dzikir itu berasal dari makom tuan Guru Haji Abdullah Khotib. Setelahnya, Abah Guru Sekumpul langsung berjiarah dan setiap tengah malam bulan terang Guru Sekumpul melakukan ziarah ke makam itu.

Di akhir hayat Guru Ijai –julukan lain Guru Sekumpul-- sebelum meninggal dunia, sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama 10 hari. Namun, pada Selasa malam beliau pulang dan tiba di Banjarmasin. Keesokannya, Rabu 10 Agustus 2005, pukul 5.10 waktu setempat, beliau berpulang ke Rahmat Allah.

Ribuan orang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan berdatangan ke Martapura untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengiringi jenazah beliau hingga ke pemakaman. Guru Sekumpul merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari.

Semasa hidupnya, Guru Sekumpul pernah berpesan tentang karomah. Dia mengatakan, jangan pernah berpikir atau berniat untuk mendapatkan karamah dengan melakukan ibadah atau wiridan-wiridan. Sebab, karomah yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah istiqamah di jalan Allah. Kalau ada orang mengaku sendiri punya karomah tapi salatnya tidak karuan, maka itu bukan karomah

Adapun beberapa kitab yang pernah ditulisnya antara lain Risalah Mubarakah; Manaqib as-Syaikh as-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Saman al-Madani; Risalah Nuraniyah fi Syarhit Tawassualtis Sammaniyah; dan Nubdzatun fi Manaqib al-Imam al-Masyhur bil-Ustadz al-A’zham Muhammad bin Ali Ba’Alawy.

Guru Sekumpul dikaruniai dua putra dari istri keduanya, Hajjah Laila, yakni Muhammad Amin Badali al-Banjari dan Ahmad Hafi Badali al-Banjari.


Penulis : Apri
Editor : Hary

Bagikan Berita ini:


Facebook Comment