'Hidup Tak Bisa Matipun Tak Bisa' Ini Tindakan Pemilik Tanah Tambak Wedi Surabaya - BERITA RAKYAT INDONESIA

Breaking News

Post Top Ad

Post Top Ad

Senin, 29 Mei 2017

'Hidup Tak Bisa Matipun Tak Bisa' Ini Tindakan Pemilik Tanah Tambak Wedi Surabaya

0 Viewers

Foto: Suasana Penurunan Plang Pemkot Yang Dilakukan Ahli Waris H.Badrul Munir (almrhum).

Berita Rakyat Surabaya -  Semakin memanas kasus tanah Tambak Wedi Surabaya yang tidak kunjung selesai, ibarat hidup tak bisa matipun tak bisa ini kata- kata yang cocok untuk pemilik tanah tambak wedi dengan melakukan aksi yang tidak bisa di pikir secara nalar yang dianggap melanggar hukum, kuasa ahli waris H.Badrul Munir tekat menurunkan Plang peringatan bertuliskan milik Pemkot berbunyi "Dilarang mendirikan bangunan diatas tanah aset Pemkot Surabaya" di Jalan Tambak Wedi dibongkar paksa H. Munawar, pada Minggu (28/5) siang.

Sebelum dilakukan kegiatan pembongkaran plang tersebut, ahli waris telah memberikan surat pemberitahuan kepada pihak Polsek Kenjeran, Koramil, Kecamatan Kenjeran dan Kelurahan Tambak. Pemberitahuan itu sebagai langkah pengawasan dan antisiapasi dari pihak-pihak tersebut dalam kegiatan yang dilakukan oleh pihak ahli waris kepemilikan tanah H.Badrul Munir dengan tanah yang dimaksud telah diakui secara sah oleh Pemkot Surabaya, sebagai tanah aset Pemkot Surabaya.

Menurut keterangan kuasa ahli waris dari H Badrun Munir adalah H Munawar Jailani dan H Sahlan mengatakan, pihaknya sudah mengalah dan menunggu cukup lama. 

“Kami taati semua prosedur yang harus kami lakukan. Sejak kami menanyakan keberadaan buku kretek desa yang terdapat persil milik ahli waris H Badrun Munir, status tanah di atas Persil 30,43,44,46 dan 48, Kelurahan Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran,” jelasnya kepada berita rakyat.

Namun sampai detik ini, pihak Kelurahan Tambak Wedi belum dapat membuktikan buku kretek tersebut dan justru seluruh perangkat kelurahan yang ditemui ahli waris terkesan menghindar, yang sebelumnya selalu saja di jawab oleh pihak Kelurahan Tambak Wedi Buku kretek yang ada dikelurahan, telah hilang. Sampai akhirnya, diketahui hilangnya buku kretek tersebut hanyalah fiktif dan penuh rekayasa pihak kelurahan saja.

"Justru dalam perkembangannya saat ini diketahui jika diatas tanah yang berdiri bangunan rumah yang sudah permanen tersebut, terletak diatas persil Petok D milik ahli waris H Badrun Munir yang sementara waktu ini telah dikuasai oleh pihak Pemkot sebagai tanaha aset miliknya," tuturnya.

Ahli waris juga sudah melakukan pendekatan persuasif, dengan memohon kejelasan kepada pihak Pemkot Surabaya, dalam hal ini Dinas Pengolahan Tanah dan Bangunan. Ia juga telah melayangkan surat permohonan kejelasannya kepada dinas terkait tertanggal 19 April 2017 dengan janji akan diselesaikan dan dipertemukan kepada pihak kelurahan Tambak Wedi.

Terkait keabsahan terhadap surat yang dimiliki oleh pihak ahli waris H Badrun Munir, namun juga tidak mendapatkan penjelasan secara transparan dan terkesan jalan di tempat saja. Justru yang ada terdapat terbitan surat balasan dari Dinas Pengolahan Bangunan dan Tanah Pemkot Surabaya Nomer Surat : 593/2698/436.7/2017, tertanggal 16/52017, yang berisi jawaban status tanah di atas Persil 30,43,44,46 dan 48, Kelurahan Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran.

Tanah yang dimaksud sebagai aset Pemerintahan Kota Surabaya, dengan atas hak berupa Petok D No 1253, Kelurahan Tambak Wedi, atas nama dr Poernomo Kasidi Walikotamadya Surabaya saat itu. Dijelaskan pula dalam Surat Dinas tersebut dalam tujuh hari stelah surat tersebut diterima oleh pihak Ahli Waris H Badrun Munir atas tanahnya yang berada di atas yang menjadi tanah aset Pemkot Surabaya, peringatan segera mengosongkan persil Petok Yang dimaksud yaitu bernomer persil 30,43,44,46 dan 48.

Sejurus setelah keluar dan terbitnya surat tersebut Penertiban bangunan liar (bangli) pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya bersama Satpol PP Kecamatan Kenjeran, telah pula melakukan sidak di Tambak Wedi gang 12A dan gang 12. Pendataan yang terjadi di lapangan seluruh obyek tanah yang di plang pemberitahuan bertuliskan Tanah aset milik Pemkot Surabaya.

Kenyataan di lapangan, di lokasi gang 12A bangunan liar diatas tanah aset Pemkot Surabaya. Tanah yang seharusnya distirilkan tidak ada bangunan semi permanen maupun bangunan permanen, kenyataannya di lokasi gang 12 terdapat bangunan liar sekitar 3150 m2 itu belum termasuk rumah berdiri permanen yang hanya memiliki salinan Petok D baru yang diterbitkan oleh pihak Kelurahan Tambak Wedi.

Peninjauan lokasi bangunan liar di jalan tambak wedi gang 12 dan 12A yang diagendakan Satpol PP Kota Surabaya langsung dipimpin oleh Kepala Operasonal dan Penertiban Satpol PP Kota Surabaya, Ndari,S,Sos, yang didampingi oleh Kasi Trantip Satpol PP Kecamatan Kenjeran. Bersama anggotanya mendata semua bangunan liar yang saat ini telah dibangun rumah semi permanen, Parkiran mobil, warung kopi, mushollah dan galangan bahan bangunan.


Justru janji dari pihak Satpol PP, sampai berita ini diturunkan, tidak pernah ada realisasinya, Sidak yang dilakukan beberapa waktu lalu, hanya omong kosong saja, tanpa lakukan penertiban bangli, sesuai tugas pihak Satpol PP Kota Surabaya, sebagai Penegak Perda yang ada. Yang akhirnya menjadi mosi tidak percaya lagi pihak Ahli Waris, kepada pihak Pemkot Surabaya, hanya mempermainkan maslalah ini saja.

Pembongkaran plang milik Pemkot, yang telah dilakukan oleh pihak ahli waris, menunjukan, penantian kejelasan dari pihak Pemkot Surabaya, tidak berujung dan sengaja tidak ingin diselsaikan secara baik-baik, maka dengan niat dan kebulatan tekad, ahli waris melakukan hal tersebut, agar pihak Pemkot mau merspon dan menelusuri kebenaran yang sampai saat ini masih di buat abu-abu, oleh pihak Oknum yang bermain di kelurahan Tambak Wedi, maupun ditingkat Kecamatan maupun pihak Pengolahan Tanah dan Bangunan pemkot Surabaya (At).

Tidak ada komentar:

Post Top Ad