Pilihan Redaksi

Minggu, 17 November 2019

Meski Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka, Polisi Enggan Menangkap Irfan Anwar

Meski Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka, Polisi Enggan Menangkap Irfan Anwar


Berita Rakyat, Medan ~ Perintah Kapolri agar Polisi bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum dan pengayom rakyat ternyata dianggap pepesan kosong oleh penyidik Polsek Medan Sunggal.

Pelaku penganiayaan yang statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka selama 5 bulan sesuai yang tertera didalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP)-A.1 Nomor : K847/V/2019/Sunggal, tanggal 20 Mei 2019 lalu. 

Irvan Anwar pelaku penganiayaan terhadap Premanda Anderianus (45) hingga kini masih menghirup udara bebas.

Sesuai Laporan Polisi Nomor : LP/345/K/V/2019/SPKT POLSEK SUNGGAL, tanggal 09 Mei 2019, pelapor atas nama Premanda Anderianus.

Dalam SP2HP itu tertulis telah terjadinya Tindak Pidana "Secara bersama-sama melakukan Penganiayaan " sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 Jo 351 KUHPidana yang diketahui terjadi pada, hari Senin tanggal 06 Mei 2019, di Komp Garden Balam Townhouse Jalan Balam Kelurahan Sei Sikambing B, Kecamatan Medan Sunggal.

Padahal sesuai yang tertuang dalam SP2HP pada butir 2  huruf c jelas tertulis, terhadap tersangka IRVAN tersebut telah diterbitkan Surat Perintah Penangkapan untuk dilakukan penangkapan dan diperiksa keterangannya sebagai tersangka. 

Namun sejak ditetapkan sebagai tersangka, Irvan Anwar oleh polisi enggan melakukan penahanan sesuai yang diperintahkan oleh UU. 

Sungguh ironis, SP2HP yang ditembuskan Kepada Kapolrestabes Medan, Kabag Ops dan Kasatreskrim Polrestabes Medan tersebut malah diabaikan penyidik Polsek Sunggal.

Menurut keterangan Premanda Anderianus kepada wartawan, Sabtu (16/11/2019) kejadian penganiayaan itu terjadi pada saat dirinya sedang bekerja sebagai security di Komp Garden Balam Townhouse di Jalan Balam Medan Sunggal.

Pada saat itu Irvan mendatangi korban Premanda yang saat itu sedang berjaga didepan Pos jaga Komp Garden Balam Townhouse.

Selanjutnya pelaku memanggil korban "Hei sini kau, merasa tidak ada masalah korban mendatangi Irvan Anwar

Begitu korban mendekat, Irvan langsung mencekik leher korban sembari memukul muka korban hingga terhempas ke aspal, tiga rekan Irvan juga ikut menghajar korban sembari berkata kasar. 

"Dasar maling, gara-gara kau rumahku kotor dan rusak. Sehingga tidak ada orang yang mau membelinya, " ujar Premanda menirukan ucapan pelaku. 

Untung saja warga Komplek Garden Balam Townhouse datang melerai bersama warga yang lain, sehingga para pelaku berhenti.
menganiaya korban.


"Usai pemukulan itu Irvan sempat ribut dengan warga, apalagi saat salah seorang merekam kejadian itu. Irvan berusaha merebut kamera milik warga. Melihat masa sudah ramai pelaku kabur bersama ketiga rekannya, " tutur Premanda, " dengan nada kesal.

Selanjutnya warga membawa Premanda ke RS Bina Kasih Sunggal. 

Akibat penganiayaan itu, Premanda mengalami luka dibagian kepala, pipi bengkak, igi atas kiri putus, dada terasa sakit, dan bengkak pada punggung. 

Setelah menjalani perawatan selama tiga hari di RS Bina Kasih Sunggal, dengan tubuh masih lemah Premanda Anderianus pun membuat laporan ke Polsek Sunggal, pada tanggal 09 Mei 2019, sekira Pukul : 10.30 WIB. 

Penasehat Hukum korban, Goncalwes Sirait, SH, dan rekan kepada berita-rakyat.co.id, Sabtu (16/11/2019) menjelaskan, bahwa proses hukum yang dilakukan penyidik Polsek Sunggal terhadap korban Premanda Anderianus dianggap tidak berkeadilan dan tidak sesuai dengan motto polisi yang PROMOTER. 

"Seharusnya penyidik profesional dalam menjalankan tugasnya. Irvan sudah ditetapkan sebagai tersangka selama lima bulan, tapi kenapa belum juga ditahan, " jelas Goncalwes.

Ditanyakan apakah selama kurun waktu lima bulan tersebut selaku Penasehat Hukum (PH) Goncalwes pernah menanyakan kepada penyidik kenapa tersangka Irvan Anwar belum juga ditahan.

"Kita sudah berulang kali menanyakan itu kepada penyidik. Tapi ada saja alasannya, Yang katanya lagi sakitlah. Terakhir kita hubungi penyidik bilang tekab lapangannya sudah ganti, " ungkap Goncalwes kecewa. 

Lanjut Goncalwes, terkait  tindak lanjut penanganan kasus penganiayaan yang dialami Premanda Anderianus tersebut, pihaknya bahkan sudah menyurati Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi pada tanggal 30 Juli 2019, dan terakhir ke Polrestabes Medan pada tanggal 04 September 2019.

"Tetap tidak ada kepastian hukum dari Polisi. Ada apa ini. Dimana negara saat rakyat ingin mendapatkan keadilan. Ini harus menjadi PR Kapolri agar menindak anggota Polisi yang terbukti menyalahgunakan jabatannya , " pintanya.

Ditanya siapa nama penyidik Polsek Sunggal yang menangani kasus penganiayaan Premanda Anderianus tersebut.

"Nama penyidiknya Brigadir MR Tarigan, " pungkasnya.


Penulis : Sofar Panjaitan
Editor : Abdi
 Sumut Kehilangan Ulama Besar, Tuan Guru Besilam Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani Tutup Usia.

Sumut Kehilangan Ulama Besar, Tuan Guru Besilam Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani Tutup Usia.


Berita Rakyat, Langkat ~ Berita duka menyelimuti Sumatera Utara, ulama besar Syekh Haji Hasyim Al-Syarwani Tuan Guru Babussalam tutup usia, pada Sabtu (16/11/2019) sekira Pukul : 11.30 WIB.

Almarhum meninggal dunia pada usia 82 tahun setelah mendapat perawatan di RS Colombia Medan.

Wafatnya ulama besar dan kharismatik tersebut disampaikan anak kandung Almarhum, Zamroni di perkampungan religius Babussalam Desa Besilam Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat.

Kepada wartawan Zamroni menyatakan, ayahandanya sebelumnya sakit dan oleh  keluarga dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

"Namun, Allah berkehendak lain atas hambaNya itu,  sekira Pukul : 11.30 WIB beliau berpulang ke Rahmatullah," tuturnya.

Jenazah Almarhum Syekh Haji Hasyim Al Sarwani direncanakan akan dikebumikan pada, Minggu (17/11/2019) di pekuburan Kompleks Babussalam.

Kepada kerabat dan seluruh masyarakat luas, Zamroni menyatakan permintaan maaf jika ada kesalahan yang dilakukan Almarhum semasa hidupnya, " pintanya.


Penulis : Sofar Panjaitan
Editor : Abdi
Dua Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 di Kota Datar Hamparan Perak

Dua Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 di Kota Datar Hamparan Perak


Berita Rakyat, Medan ~ Pasca bom bunuh diri Mapolrestabes Medan pada Rabu (13/11/2019), Polisi terus memburu jaringan para pelaku, alhasil dua terduga teroris berhasil ditembak mati tim Densus 88 di daerah Kota Datar, Dusun I Kekek, Hamparan Perak, Sabtu (16/11/2019) sekira Pukul : 10.30 WIB. 

Sementara, satu pelaku terduga teroris lainnya berhasil melarikan diri.

Dari informasi yang diperoleh, peristiwa ini terjadi pada saat petugas akan melakukan pengamanan terhadap tiga terduga teroris di daerah Kota Datar, Hamparan Perak

Saat itu, tiga terduga teroris yang sedang mengendarai sepeda motor di hadang oleh tim Densus 88.

Namun salah seorang terduga teroris mengeluarkan senjata, baku tembak antara kedua kubu pun tak terhindarkan.


Dua orang terduga teroris tewas ditembak tim Densus 88, sementara, seorang tersangka lainnya berhasil melarikan diri. 

Sementara itu, satu orang anggota Densus 88 mengalami luka tembak pada bagian pahanya dan dirawat di Puskesmas Kota Datar Hamparan Perak.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto kepada wartawan membenarkan terkait tewasnya dua terduga teroris oleh Tim Densus 88.

“Ya benar ada 2 teroris yang tewas ditembak mati saat baku tembak dengan anggota Tim Densus 88. Satu anggota terluka dalam peristiwa itu,” ujar Irjen Pol Agus Andrianto.

Agus menjelaskan, hingga saat ini tim Densus 88 terus bergerak cepat mengejar pelaku terduga teroris lainnya.

"Tim juga menangkap 3 orang di Aceh. Untuk detail seluruh informasi nanti kita sampaikan, sebab saat ini tim masih bekerja untuk mengungkap dan menangkap pelaku lainnya, " jelasnya. 

Pantauan wartawan, sekira Pukul :14.45 WIB, dua terduga teroris yang ditembak mati Tim Densus 88 telah dibawa ke RS Bhayangkara Medan. 


Penulis : Sofar Panjaitan
Editor : Abdi

Sabtu, 16 November 2019

Sejumlah Siswa SMKN Pakue Tengah Gelar Praktek, Begini Tanggapan Kepsek

Sejumlah Siswa SMKN Pakue Tengah Gelar Praktek, Begini Tanggapan Kepsek


Berita Rakyat, MAKASSAR - Sekitar 80 siswa disebar di Kota Makassar. Di berbagai instansi, perusahaan, dan lembaga.

Siswa SMKN Negeri 1 Pakue Tengah, Kolaka Utara, Sultra ini, melakukan praktek lapangan. Selama tiga bulan.

Ada jurusan otomotif. Tata Busana. TBSM, TKJ, Dan pertanian (ATPH).

Bengkel Supra Honda Center. Di jalan Landak Makassar. Salah satu tempat praktek. Tiga siswa jurusan otomotif.

“Di sini mereka mendapat ilmu, sehingga kami juga terapkan kedisiplinan. Mereka belajar cara mengatasi masalah yang dialami kendaraan (motor,)” kata Novianingsih Paulus, pemilik Supra Honda Center Makassar, Sabtu (16/11/19).

Menurut Kepala Mekanik Supra Honda Center,  Muhammad Azhar SE. semua siswa yang praktek di bengkel itu berjalan baik. Mereka bisa menyerap ilmu dan pengalaman.

Dia berharap ke depan kerjasama antara bengkel Supra Astra Honda bisa tetap terjalin.

“Berikutnya kalau ada siswi kami siap terima dari SMKN 1 Pakue Tengah, Kolaka Utara, Sultra,” katanya.

Tempat praktek lainnya, Nurul Konveksi Makassar, di Jalan Manuruki 2 Makassar. Ada lima siswi jurusan tata busana. Praktek di sana.

“Kalau di sini. Mereka semua sudah bisa menjahit. Apa yang mereka pelajari semoga bisa dimanfaatkan,” kata Sabaruddin, Owner Nurul Konveksi Makassar.

Dia menjelaskan mungkin kalau di sekolah. Siswa mempelajari peraktek. Tetapi di sinilah mereka praktekkan apa yang mereka pelajari di sekolah.

“Di sini mereka mempelajari semua hal tentang jahit menjahit. Saya kira semua sudah bisa. Memang belum ahli. Tapi sudah bisa,” katanya.

Rusni, salah satu siswi praktek. Mengaku sudah bisa menjahit setelah praktek empat bulan di Nurul Konveksi Makassar. Dan siap mengaplikasikan kalau sudah kembali nantinya.

“Alhamdulillah, saya sudah bisa menjahit pak,” kata Rusni.

Kepala SMKN 1 Pakue, Kolaka Utara, Sultra, Alimuddin MSi, mengatakan; atas nama kepala sekolah. Mengucapkan terima kasih kepada manajemen Supra Astra Motor dan Pimpinan Nurul Konveksi Makassar.

“Sebagai penanggungjawab, saya meminta maaf jika ada kelakuan atau apa saja yang telah diperbuat siswa yang kurang berkenan. Terima kasih atas semua ilmunya. Yang diberikan kepada siswa kami,” kata Alimuddin.

Sebelum kembali ke Kolaka. Alimuddin juga mengunjugi dan melihat aktifitas siswanya yang praktek di Pusat Perbelanjaan MTC Karebosi Makassar.

Di MTC Karebosi ada 29 siswa praktek. Tersebar di berbagai toko dan gerai di sana.

“Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah menerima siswa kami untuk praktek,” katanya.

Dia berharap kepada siswa agar manfaatkan waktu prakte sebaik-baiknya. Agar bisa menambah lebih banyak ilmu dan keahlian nantinya.

Pada kegiatan tersebut turut hadir, Ahmad Akbar, Wakil Urusan Kesiswaan yang juga alumni Prodi PTP UNM. (*)





Penulis : Zaki Rifan
Editor : Putra
Memanas, Ratusan Warga Cendoro akan Berunjuk Rasa Soal Transparansi Tata Kelola Keuangan Desa TA 2018 dan 2019

Memanas, Ratusan Warga Cendoro akan Berunjuk Rasa Soal Transparansi Tata Kelola Keuangan Desa TA 2018 dan 2019

Masyarakat Desa Cendono, Kabupaten Mojokerto

Berita Rakyat, Mojokerto - 
Terkait sengketa transparansi laporan pertanggungjawaban tata kelola keuangan Pemerintahan Desa Cendoro, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, dengan masyarakat Desa Cendoro untuk TA 2018 dan 2019 semakin hangat. Upaya masyarakat Desa Cendoro yang memohon keterbukaan informasi kepada Pemerintahan Desa Cendoro terkait beberapa pelaksanaan kegiatan dan beberapa item pekerjaan fisik yang dilaksanakan pada TA 2018 dan 2019 pada Rabu (13/11/2019) dan Kamis (14/11/2019) akan berlanjut pada Selasa (19/11/2019).

Seperti yang disampaikan Kayat, salah satu pejuang keterbukaan informasi publik Cendoro pada Sabtu (16/11/2019) bahwasanya pada Selasa depan diperkirakan sekitar 600 warga Cendoro akan berkumpul di Balai Desa Cendoro.

“Sekitar 600 warga Cendoro akan berkumpul di Balai Desa Cendoro pada Selasa depan. Mereka ingin mengetahui transparansi dan pertanggungjawaban Pemerintah Desa Cendoro terkait tata kelola keuangan Desa Cendoro pada TA 2018 dan 2019 yang bersumber dari ADD (Alokasi Dana Desa) dan DD (Dana Desa). Ini merupakan bentuk peran aktif masyarakat untuk mendorong terwujudnya penyelenggaraan Pemerintahan Desa Cendoro yang baik dan bersih menuju desa yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Cendoro,” tegas Kayat bersemangat saat dikonfirmasi.

Kayat sendiri juga menjelaskan bahwa masyarakat semakin antusias terhadap gerakan ini setelah mengetahui pernyataan sikap Camat Dawarblandong, Norman Handhito, S.IP, M.Si. yang cenderung tidak berpihak kepada masyarakat Cendoro melainkan seolah olah menjadi penjaga gawang Pemerintah Desa Cendoro terkait keterbukaan informasi yang dinohonkan masyarakat.

“Salah satu semangat yang mendorong masyarakat Desa Cendoro untuk terus berjuang terkait keterbukaan informasi ini adalah pernyataan sikap Camat Norman yang terkesan menutup-nutupi informasi yang dimohonkan masyarakat. Ada apa ?,” tukas Kayat dengan tegas.

Kayat juga menambahkan bahwa hari ini surat pemberitahuan aksi masyarakat Cendoro tersebut telah dikirim kepada pihak terkait seperti Kapolresta Mojokerto, Kapolsek Dawarblandong, Bupati Mojokerto, Camat Dawarblandong, Danramil Dawarblandong, Pemerintah Desa Cendoro dan Ketua BPD Cendoro.

“Surat pemberitahuan terkait aksi damai terkait keterbukaan informasi publik Pemerintah Desa Cendoro telah resmi kami kirim hari ini. Kami akan melakukan unjuk rasa damai, sopan dan bermartabat demi terwujudnya transparansi tata kelola keuangan Pemerintah Desa Cendoro,” jawab Kayat. 

Kayat juga menegaskan bahwa pada hari Selasa (19/11/2019) seperti hasil kesepakatan pertemuan pada Kamis kemarin (14/11/2019) bahwasanya Pemerintah Desa Cendoro berjanji akan memberikan informasi terkait permohonan masyarakat yang akan disampaikan oleh Ketua BPD Desa Cendoro didepan masyarakat serta disaksikan beberapa perangkat Desa Cendoro.



Penulis : Hary
Editor : Wong
 Dosen  FIS UNP, Afriva Khaidir Pimpin Kongres Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (AsIAN)

Dosen FIS UNP, Afriva Khaidir Pimpin Kongres Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (AsIAN)


Berita Rakyat, Padang - Kongres Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (AsIAN), yang berlangsung di Universitas Terbuka Jakarta pada, kamis (31/10/19) kemarin berjalan lancar.  Bersamaan dengan kegiatan Open Society Conference (OSC) yang dihadiri oleh banyak akademisi dan praktisi di Bidang Administrasi Negara dari seluruh Indonesia. 

Afriva Khaidir MAPA, Ph. D yang merupakan Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FIS UNP) tersebut dipilih oleh Anggota AsIAN menggantikan Prof. Dr. Hanif Nurcholis sebagai Ketua Umum yang baru. 

Dosen FIS UNP bersama para anggota memimpin rapat untuk membentuk formatur dalam rangka menetapkan pengurus dan menampung usulan program serta kegiatan yang akan dilaksanakan selama periode kepengurusan. 


"Beberapa usulan program dan kegiatan dari anggota antara lain, penguatan kapasitas organisasi AsIAN, joint research antar perguruan tinggi, advokasi dan rekomendasi kebijakan publik, kerjasama antar lembaga, dan menyeleggarakan simposium dan konferensi secara rutin," ujar ketua umum Afriva Khaidir kepada media ini (16/11/19).

Pada kegiatan OSC tersebut hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Eko Prasojo (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Grace Javier Alfonso (UPOU Philippine), dan Dr. Lim Tai Wai (National University of Singapore).

Setelah kegiatan Kongres AsIAN usai dilaksanakan, Afriva Khaidir selaku Ketua Umum AsIAN yang baru bersama seluruh peserta kongres bertemu dengan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Gedung MPR/DPR RI di Jakarta. 

Rombongan peserta Kongres AsiAN diterima oleh Dr. Hidayat Nur Wahid yang merupakan Wakil Ketua MPR RI. Adapun agenda pertemuan tersebut adalah dalam rangka menjajaki kerjasama antara MPR RI dengan AsiAN untuk memberikan solusi berbagai permasalahan bangsa terutama di bidang Administrasi Negara.

Perlu diketahui Para peserta Kongres AsIAN dari UNP yakni Afriva Khaidir, Suryanef dan Zikri Alhadi yang semuanya berasal dari FIS UNP. Secara aklamasi para anggota AsIAN telah menetapkan Afriva Khaidir, MAPA, Ph.D sebagai Ketua Umum AsiAN Indonesia periode 2019 – 2022.  


Penulis : Kholis
Editor : Ade

Jumat, 15 November 2019

Pimpred Diborgol Kantor Duta Masyarakat Porak Poranda, AJI Ambil Sikap

Pimpred Diborgol Kantor Duta Masyarakat Porak Poranda, AJI Ambil Sikap

Foto : M. Kayis Pimpred Harian Duta Masyarakat bersama temannya diborgol polisi saat didalam mobil petugas kepolisian.
Berita Rakyat, Surabaya - Eksekusi gedung Astranawa yang dilakukan pihak Pengadilan Negeri Surabaya menui banyak kecaman. Porak-poranda isi ruangan kantor Duta Masyarakat, meja komputer hingga berkas-berkas penting redaksi ikut dikeluarkan dari dalam kantor oleh petugas eksekusi. Tak hanya itu pimpinan redaksi Duta Masyarakat juga diborgol  seperti penjahat oleh pihak kepolisian.

Pemborgolan pimpinan redaksi M. Kayis, membuat geram semua teman sejawat, kali ini Organisasi pers Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Surabaya menyayangkan sikap kepolisian yang "mengamankan" dengan memborogol Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat, M. Kayis saat mencoba menghalangi eksekusi gedung Astranawa, Rabu (13/11/2019).

AJI menilai apa yang dilakukan Kayis tidak lebih untuk melindungi kinerja jurnalistik Duta Masyarakat yang berada di gedung Astranawa. "Seharusnya, aparat yang bertugas memahami hal itu dan tidak melakukan hal yang berlebihan dengan memborgolnya. Pemborgolan yang dilakukan aparat menunjukkan sikap represif kepada Kayis baik sebagai jurnalis maupun masyarakat," ujar Miftah Farid dalam pres rilisnya (15/11/19).

Foto: Kondisi isi kantor media harian Duta Masyarakat yang di keluarkan petugas.
Dengan tidak terbitnya Duta Masyarakat dalam waktu yang tidak ditentukan membuat masyarakat kehilangan hak untuk informasi. Kronologi kejadian berawal dari Kayis yang meminta aparat untuk tidak melakukan eksekusi terhadap kantor Duta Masyarakat yang satu kompleks dengan Astranawa. 

Perlu diketahui, selama dua jam M. Kayis diamankan di Polrestabes Surabaya dan akhir dipindahkan ke Polsek Gayungan. Saat di Polsek Gayungan Kayis sempat meminta izin untuk mengamankan komputer dan sistem jaringan yang ada di kantor Duta.

Kayis meminta ijin, karena  memindahkan jaringan internal di kantor Duta tak mudah. Imbasnya, Duta Masyarakat tidak bisa terbit dalam waktu yang tidak ditentukan. 

Terkait perilaku yang dilakukan pihak kepolisian, AJI Surabaya menyampaikan sikap :

1. Menuntut kepolisian meminta maaf atas tindakan yang berlebihan dengan memborgol saudara Kayis. 

2. Meminta kepada Kapolrestabes Surabaya untuk menindak anggotanya yang bersikap secara berlebihan dalam menangani peristiwa eksekusi gedung Astranawa.

3. Meminta kepada siapapun untuk menjaga marwah kebebasan pers, demi jaminan hak informasi publik.

4. AJI Surabaya bersolidaritas kepada seluruh awak Duta Masyarakat yang sampai saat ini berusaha memulihkan kembali aktivitas keredaksiannya. 


Penulis : Ade
Eksekusi Gedung Astranawa Ricuh, Isi Kantor Media "Diacak-acak"

Eksekusi Gedung Astranawa Ricuh, Isi Kantor Media "Diacak-acak"

Foto Suasana di depan Gedung Astranawa dan kantor media harian Duta Masyarakat paska eksekusi oleh pihak Pengadilan Negeri Surabaya.
Berita Rakyat, Surabaya - Pengadilan Negeri (PN) Surabaya melakukan eksekusi gedung Astranawa di Jalan Gayungsari Timur, Rabu (13/11) siang kemarin. Saat  eksekusi berlangsung sempat terjadi kericuhan, dari pihak aparat kepolisian langsung mengamankan seseorang yang diketahui pemimpin redaksi (Pemred) Harian Duta Masyarakat.

Mokhammad Kaiyis yang dianggap mengganggu jalannya pelaksaan eksekusi langsung diborgol, Ia juga sempat ditahan bersama dua pria lain yang diketahui bernama Said dan Ugik. Meski demikian, ia kemudian dilepaskan.

“Saya menyadari dan saya paham betul, Ini karena dalam proses kebijakan hukum kita, hal semacam ini sering terjadi dan selalu menimpa orang-orang kecil,” ujar Kaiyis.

Redaksi media Harian Duta Masyarakat selama ini berkantor di dalam kompleks gedung Astranawa. Saat akan dieksekusi, barang-barang redaksi Media Duta Masyarakat seperti meja, kursi, komputer dan berkas-berkas lainya "diacak-acak" oleh petugas.


Foto: Kondisi ruangan redaksi Harian Duta Masyarakat.
Kaiyis menuturkan kepada wartawan bahwa eksekusi sebetulnya belum bisa dilakukan. Sebab ada upaya hukum lain (gugatan terhadap eksekusi) yang sedang dilakukan. 

“Kami masih melakukan perlawanan terhadap eksekusi itu. Pada Selasa kemarin sudah ditetapkan majelisnya dan kapan akan disidangkan perkara ini. Kalau gugatan terhadap eksekusi ini diterima, berarti eksekusi tidak bisa dilakukan. Harus ditunda dulu,” jelas dengan berharap.

lanjut pimpinan redaksi Duta Masyarakat, dengan rasa kecewa Kaligis mengungkapkan. Pada tanggal 26 November 2019 esok akan ada sidang di pengadilan. Ternyata eksekusi tetap dilakukan. 

“Sebagai orang kecil, saya hanya bisa teriak-teriak. Saya tidak punya pistol (senjata). Saat saya teriak-teriak, saya dikecrek (diborgol), lalu dimasukkan ke mobil. Lanjutnya, kemudian saya minta izin untuk mengamankan komputer dan jaringan yang ada di kantor saya," ungkapnya dengan wajah lesuh.

Usai dibawa ke Polrestabes Surabaya M. Kaiyis dipindahkan ke Polsek Jambangan. Setelah itu, Kaiyis dibawa menuju pos polisi Gayungan dekat Perumahan The Gayungsari (dekat Astranawa) lalu dilepaskan.


Penulis : Ade